Tag

, ,

Tittle :  Hope

Author : Pie Cherry

Main Cast : –     Park Soo Ra (author/ reader<you>)

–           Bang Mir

Genre : Romance, thriller.

Rating : PG-13

Length : One Shoot

Note :  kalo merasa lelah, letih, lesu, lunglai ketika membaca FF ini harap segera hancurkan komputer anda agar tidak terjadi hal yang diinginkan. Soo Ra is Mine, but Mir is asli dari Korea (?) Ini Adalah One Shoot terpendekku, dan tentu saja alurnya terasa cepat jika dibaca, moga kalian dapat memberikan aku kritik, karena kritik adalah salah satu motivator aku #eaaaa.. okeh , Happy Reading! J

**Author POV**

Suara hentakan, teriakan, gencatan senjata sudah terdengar jelas. Mir berlari dengan sigap nan cepat. Matanya tak mampu untuk melihat kearah manapun, semakin ia berlari semakin ia merasakan rasa perih di lengannya yang sudah tersarang 2 peluru dari lawan. Keringat bercucuran dari pelipisnya, langkahnya semakin pelan pelan dan pelan.

Sambil menyentuh lengan kirinya, ia meringis keras. Menahan perihnya, ia mencoba untuk memandang keseluruh tentara yang masih berjuang untuk melawan para penjajah disana. Lelaki itu terus merasa kesakitan, darah segar terus mengalir. Mata itu seolah semakin gelap, dan semuanya terasa aneh.

Inilah tahun dimana para masyarakat korea berjuang keras demi mempertahankan tanah air mereka. Banyak yang telah pergi, banyak juga yang masih mencoba bertahan akan krisisnya hidup ini. Dunia seolah penuh dengan jajahan, tak satupun dari mereka yang tak dapat menahan tangis, ini sungguh menyakitkan.

**

Sebuah sentuhan halus yang dingin terasa dipipi Mir, perlahan lelaki itu membuka matanya yang masih susah untuk dibuka. Gadis itu memandangnya dengan tatapan yang amat cemas, sontak mata lelaki itu melebar dan segera mencoba untuk bangun akan tetapi badannya merasa tersiksa ketika ia mencoba bangun, gadis itu segera melepas tangannya dari pipi Mir.

“ahirnya..kau bangun juga.”pelan Gadis itu sambil tersenyum tipis.

Mir hanya terdiam memaku, ia bingung harus mengatakan apa. Tampak lelaki itu menyipitkan kedua matanya, ia sedang terbaring disebuah gubuk tua yang hampir akan roboh. Di mana ini?

“aku menemukanmu tergeletak..kupikir kau sudah tiada, ternyata kau hanya pingsan..”gumam gadis itu sambil menumbuk sesuatu berupa obat. Lidah Mir terasa kelu untuk berbicara sekarang, yang ia inginkan saat ini adalah menutup matanya dengan tenang.

“kau tentara rupanya..”kata gadis itu sambil menaruh obatan tadi dilengan Mir yang luka. “tenang saja, peluru itu… sudah kuambil..”tambahnya.

apakah gadis ini seorang…”

“aku seorang tabib..jadi kau tidak perlu menuduhku memakai cara yang lain dari yang lainnya.”ujar Gadis itu seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Mir.

“aku Park Soo Ra,”ujarnya pelan namun masih dapat didengar lelaki itu.

“sekarang, istirahatlah dengan tenang..”

**

Mir memakan habis sepiring makanan sederhana yang telah disiapkan oleh tabib itu—Park Soo Ra—dapat diketahui bahwa lelaki itu sangat lapar. Soo Ra hanya memandang lelaki itu dengan pikiran kosong.

“sepertinya kau akan cepat sembuh..”kata Soo Ra sambil memandang kearah luar, hujan sangat deras. Mir hanya diam, ia sibuk untuk merangkai sebuah kata untuk gadis itu.

“terimakasih..maaf aku menyusahkanmu” hanya itu yang dapat dikatakannya.

Soo Ra tersenyum tulus “yah, aku senang mengobati orang yang terluka, jadi kau tidak perlu segan aku mengobatimu..”pelan Soo Ra, matanya yang indah seolah menggambarkan bahwa gadis itu benar-benar tanpa pamrih menolong.

“istirahatlah..masih banyak tentara lain yang harus aku obati..”

Mir hanya diam, ia menyentuh lengannya yang terasa perih. Sebuah pemikiran aneh terlintas dibenaknya.

“apakah hanya gadis itu yang jadi tabib disini?”

Sudah Pagi, Mir membuka matanya perlahan. Suara teriakan terdengar jelas ditelinganya, suara ledakan tak lupa menjadi alarm pagi yang sangat menakutkan. Mir Segera bangun, ia membuka jendela gubuk tua itu dengan perlahan. Sejenak mata lelaki itu melebar ketika melihat beberapa temannya telah tergeletak tak berdaya dengan penuh simbahan darah dibadan mereka, ada yang mencoba untuk lari ada juga yang sudah tertangkap oleh pada penjajah yang tidak ada ampun diotak mereka. Keadaan yang awalnya terasa tenang kini kembali mencekam.

Yang masih tersangkut dipikiran lelaki itu adalah.”apa gadis itu baik-baik saja?dimana dia?apakah dia tidak tertembak?”

Sebuah tangan lembut menarik tangan Mir, lelaki itu tentu saja terkejut. “ayo cepat..lewat sini..!”bisik Soo Ra pelan, badannya penuh dengan darah tapi gadis itu tidak merasakan sakit sedikitpun.

Mereka berlari pelan melewati pintu belakang gubuk tua itu, Mir hanya bisa mencoba berlari bersama gadis itu, keadan tubuhnya tidak mampu untuk melindungi gadis itu. Melewati beberapa semak belukar yang hampir menutupi badan mereka, mereka dapat lolos dari ancaman kematian itu. Mereka telah sampai disebuah hutan yang lebat, Soo Ra merangkul Mir untuk duduk tepat dibawah pohon pinus yang tinggi.

“kau tidak apa-apa?”tanya Soo Ra dengan sisa nafasnya yang masih sempat digunakan dengan sedikit tenang. Mir mengangguk, “kau?darah itu..”

Soo Ra memeriksa bajunya yang sudah penuh dengan lumuran darah, “ini darah mereka..”pelan gadis itu, setelah lama berdian ahirnya tetesan bening jatuh dari matanya.

”seharusnya aku dapat menyelamatkan mereka,”ratap Soo Ra sambil mengusap air matanya, “dasar bodoh..”tambahnya.

“kau seharusnya bersyukur  masih diberikan keselamatan..”cetus Mir dengan dinginnya.

Soo Ra sedikit terkejut, kemudian tersenyum hambar “semua tabib sudah diungsikan untuk membantu para perempuan dan juga anak-anak.. hanya aku yang mencoba untuk datang menyelamatkan kalian yang telah berjuang untuk..”gadis itu perlahan menangis, “bagiku kalian adalah harapanku dan juga harapan kita semua dalam merebut tanah air kita..seharusnya kau tidak berbicara seperti itu..” tukasnya pelan. Mir tertunduk, jujur saja dia sama sekali tidak bisa merasakan kasih sayang yang dirasakan oleh Soo Ra, darah yang berceceran, mayat bergelimpangan, teriakan yang memecahkan gendang telinga, itu bukan sesuatu yang baru baginya, ia selalu mencoba untuk tidak menangis ketika melihat orang mati. Selama dia diberi keselamatan, dia hanya harus bersyukur bukannya menangis. Itu saja..

“kau terluka..?”tanya Gadis itu tiba-tiba sambil menaruh tangan kanannya di lengan Mir, lelaki itu segera melonjak kaget dan langsung menarik badannya menjauh dari gadis itu, hampir saja jantungnya jatuh dari tempatnya.

“kenapa? Masih sakit?”tanya Soo Ra dengan polosnya, Mir mengalihkan pandangannya kearah yang lain, ia hanya mengangguk.

“tunggulah sebentar, aku akan mencari obat untukmu..” seraya berdiri, Soo Ra segera memutar otaknya untuk berfikir keras bagaimana ia dapat mencari obat dihutan belantara ini?

“jangan…”

Soo Ra memutar kepalanya dengan pelan, ia baru saja mencerna apa yang diucapkan lelaki itu.

“jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri disini..” ulang Mir, matanya sibuk untuk mencoba tidak melihat wajah gadis itu.

**Park Soo Ra POV**

Aku berlutut memandang lelaki itu, dilihatnya wajah lelaki itu yang memerah. Sekilas senyum terpampang dibibirku.

“aku takkan pernah meninggalkamu…”

Kini lelaki itu yang memandangku dengan aneh, wajahnya semakin memerah. Aku tersenyum lembut. “karena aku yang akan melindungimu.. kau adalah satu-satunya harapanku..”

**

Esoknya, aku membuka mataku dengan perlahan. langit masih gelap, aku tidak tidur semalaman ini, aku berharap para penjajah itu tidak menemui kami disini. Rasa kantukku perlahan hilang ketika melihat lelaki itu berdiri tepat didepanku.

“kau seharusnya tidur tadi malam..”singkatnya.

“aku tidak bisa tidur dengan tenang jika kita masih dalam keadan mencekam begini! Apalagi kita sedang berada di hutan belantara.. jadi…”

“kita kembali ketempat yang dulu, aku tadi pergi kesana,” lelaki itu memandangku tanpa ekspresi “sudah aman..” katanya.

Kami berjalan menyusuri tempat yang tak pernah aku ketahui, hanya ada diam selama kami menempuh perjalanan.

“hei.. boleh aku tahu siapa namamu?”tanyaku membuka percakapan.

Mir hanya diam, sambil mencoba untuk terhindar dari ranting-ranting pohon yang tajam.

“hei..” panggilku lagi pada lelaki dingin itu.

“Mir..Bang Mir..”singkatnya. Aku kembali terdiam.

“oh , iya kau tahu namaku? Namaku..”

“Park Soo Ra.. ya aku tahu..”potong Mir seolah malas untuk mendengar ocehanku, sedikit mengiris hatiku tapi itu memang sudah pembawaannya dari dulu. Sepertinya..

Kamipun sampai di tempat semula kami mengungsi, semuanya terasa sepi. Kulihat beberapa gubuk yang telah hancur akibat ulah pada penjajah semalam. Beberapa mayat bergelimpangan disana, begitu menyiksa batinku. Andai saja aku bisa menyelamatkan mereka pasti mereka tak akan…

“aku harap kau tidak berfikiran yang aneh tentang mayat-mayat ini..”tukas Mir membuat aku sedikit terkejut, lelaki itu seolah tahu apa yang aku pikirkan.

“lebih baik aku menyiapkan makanan untukmu.. mungkin sebaiknya kita..”

“kita tidak punya bahan makanan..” potong Mir untuk kesekian kalinya.

“tenang saja, aku sudah menyiapkan ubi di gubuk itu sebelum penjajah itu datang kesini” ujarku seraya menunjuk gubuk tua yang masih utuh, dan aku sangat bersyukur. Mir hanya diam, ia pun duduk dengan hati-hati agar lukanya tidak semakin parah.

**Bang Mir POV**

Malam begitu indah, gadis itu mengangkat sedikit dagunya untuk dapat melihat bintang-bintang yang bertaburan disana, malam ini kami hanya bisa terduduk melihat bintang, belum ada rasa kantuk dimasing-masing kami. Aku pernah berfikir, apakah gadis ini tidak merindukan ibunya? Atau merindukan ayahnya? Atau mungkin keluarganya?

“kau terlihat tidak merasa kesepian..” kataku pelan, awalnya gadis itu hanya diam untuk beberapa menit, hingga ia membuka mulutnya.

“tentu saja aku kesepian,”pelan gadis itu sambil mengangkat tangannya. “tapi aku tidak bisa lagi bertemu lagi dengan mereka, sejak saat itulah aku bertekad agar dapat menyembuhkan orang yang telah berjuang..”ungkapnya. “kau juga tidak merasa kesepian, menurutku kau dalah orang yang punya rasa kasih sayang?”tanya gadis itu secara mendadak.

“aku tak kenal siapa orangtuaku, aku sudah terlahir hidup keras dan ditugaskan untuk menjadi tentara.. aku tak mengerti kasih sayang, rasa rindu, segalanya..”singkatku pelan, entah kenapa hatiku terasa nyeri untuk mengatakannya. Gadis itu menyentuh tanganku, sentuhan lembutnya membuat aku sedikit terkejut.

“aku yakin kau punya.. suatu saat nanti .. kau akan merasakannya, kau akan jatuh cinta, kau akan rindu, kau akan mengerti arti kasih sayang..” belum sempat gadis itu berbicara , sebuah tembakan kencang terdengar dimasing-masing telinga kami.

“itu mereka! Cepat tangkap!” teriak seorang lelaki yang sangat asing menurut kami, dia buka orang Korea. Aku segera menarik Gadis itu pergi, beberapa tembakan mencoba untuk menembak kami, aku mencoba berlari sekuat yang aku bisa berharap tidak terjadi sesuatu dengan gadis ini. Tiba-tiba tangan Gadis itu mengenggamku dengan sangat erat, bahkan membuat tanganku sakit. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa berdiam diri dan menanyakannya, kami harus pergi dari sini.

Setelah jauh dari kejaran mereka, semakin lama energiku semakin menyusut. Sial! Disaat seperti ini aku harus merasa lemah, “ayo cepat kesini..”ujarku ketika kami sampai disebuah Gua kecil yang hampir tidak terlihat. Aku menghembuskan nafas dengan pelan, dadaku sangat sakit akibat berlari tadi, gadis itu juga hanya diam sambil memegang erat tanganku.

“kau tidak apa..” sejenak mataku melebar, kulihat Soo Ra terus menahan rasa perih di perut bagian kirinya, ia menutup matanya sambil mengontrol nafasnya begitu pula dengan luka tembakannya, “mereka menembakku ketika kita sedang duduk tadi..” bisiknya pelan. Kepalaku terasa amat berat saat itu, otakku kupaksa untuk berfikir keras agar gadis ini tidak..

Sebuah senyum manis terlukis dibibir merahnya. “sudahlah..”katanya hampir berbisik.

“mungkin disinilah ahir pertemuan kita,” Soo Ra menutup matanya dengan pelan kemudian membukanya kembali.

“jangan lupakan aku ya..”bisik gadis itu sambil memandangku, air matanya berjatuhan tapi gadis itu seolah menerima semuanya dengan perlahan-lahan. Kudekap tubuhnya dengan perlahan, kubiarkan ia menangis. Tuhan, sekali ini saja..

“jangan pergi..kumohon jangan pergi..” dapat kudengar isak tangisnya, debaran jantungnya, dan segalanya.

“aku,”aku menunduk pelan, “mungkin, aku .. menyayangimu..”

Kupelas dekapanku, kubiarkan dia melihat mataku, kubiarkan dia mengetahui kejujuran dimataku ini. Seulas senyum manis itu kembali terlukis dibibirnya, ia seolah tahu arti dari mataku ini. “syukurlah..”sahutnya pelan. Aku tak tahan melihat wajahnya, begitu menyakitkan, yang bisa kulakukan hanya dapat memeluknya untuk pertama dan terahir kalinya. Malam ini begitu sunyi, setelah beberapa menit kami berdiam ahirnya suara lemah itu terdengar.

“aku juga, menyayangimu..” bisik gadis itu, debaran jantungnya yang masih dapat aku rasakan kini semakin melambat dan ahirnya tak pernah terdengar lagi.

Untuk selamanya..

**Author POV**

1 tahun telah berlalu, kini semuanya telah merdeka. Mereka yang telah berjuang saat ini sudah dapat tersenyum dengan haru. Peperangan telah berahir, tak ada lagi penindasan, tak ada lagi tangisan, dan tak ada lagi gadis itu..

Mir berdiri sambil termenung pelan, senyum ketenangan masih terpampang jelas dibibirnya. Angin berhembus pelan menerpanya, terasa damai. Tapi dadanya masih terasa sakit, perasaanya terasa lain selama 1 tahun belakangan ini. Perasaan yang sangat aneh, dan hampir membuat lelaki itu ingin menangis. Sangat sakit..

“aku yakin kau punya.. suatu saat nanti .. kau akan merasakannya, kau akan jatuh cinta, kau akan rindu, kau akan mengerti arti kasih sayang..”

Angin kembali berhembus menerpa lelaki itu, setetes air mata itu jatuh dari pelupuk matanya.

“Soo Ra.. mungkinkah aku merindukanmu?”

**THE END**

LIKE, BACA , KOMENT😀 (?)