Tag

,

  

Just One More Time

Tittle                : Just one more time

Author             :  Pie Cherry

Cast                 :  Madoka Furusawa, Sakakibara Kouichi

Genre             :  Sad Romance.

Note              :  bwahahahahaha😄 maaf ya yang suka sama Sakakibara Kouichi di Another. Aku juga suka sama anime satu ini TwT so, ku ambil deh sakakibaranya #digampar.  Sakakibara-san asli dari sebuah anime/novel . sedangkan Madoka Furusawa asli buatan saya .__.dan ini FF asli buatan mbah ALDA NURUL IZZAH wkwkwkwkw😄 maaf kalo rada aneh dalam cerita ini.oke, happy reading!

******************************************************************************

~Madoka Furusawa POV~

Aku terdiam sambil memandang setiap rintik-rintik hujan,kota Tokyo tampak tidak bersahabat hari ini.Dari balkon rumahku,aku dapat melihat beberapa anak sedang bermain hujan dengan senangnya,aku tersenyum.Tiba-tiba  salah satu dari mereka memandangku,ia tersenyum cerah.

–      “O genki desu ka(apa kabarmu) Onee-san?”Tanyanya,suaranya hampir tertutup oleh derasnya hujan. Aku mengangguk.

“O kage desu..”jawabku pelan,aku yakin anak itu tak dapat mendengarku.Dia hanya tersenyum kemudian kembali bermain hujan dengan teman-temannya. Aku merasa iri dengan mereka.

“Madoka-chan?”

Aku berpaling ke belakang,kulihat ibuku membawa sebuah sweater coklat muda berbahan dasar wol,perempuan paruh baya itu tampak cemas melihat anaknya berdiri diluar yang dingin.

“lagi-lagi kau lupa mengenakan sweatermu..ayo masuk.”panggil ibuku dari dalam.

Aku tersenyum kecut “Gomen na sai OKaa-san..”desahku pelan,sambil berjalan masuk.Ibuku langsung mengenakan sweater berkancing itu padaku,ia menghembuskan nafas panjang “kau ini..” keluhnya padaku.”kau harus pandai mengontrol tubuhmu..”.

Aku mengangguk cepat,ibuku memandangku lekat-lekat kemudian tersenyum sebentar “aku memasakkanmu bubur hari ini..makanlah bersama abangmu..”ujarnya sambil berjalan  membelakangiku kemudian pergi.

Aku memang harus mengontrol tubuhku,aku tak ingin membuat Okka-san,Otou-san dan Onii-chan khawatir lagi.Aku tak mau jatuh pingsan lagi,aku tak mau membuat ibuku menangis lagi.Tapi justru akulah yang sangat tersiksa.

Kenapa Kelainan Jantung yang sudah aku idap sejak kecil membuat kebebasanku terhalangi?

**Sakakibara Kouichi POV**

Kupandang kain kanvas yang putih dan tidak ada sedikit coretan warna yang indah,aku berpikir kanvas ini sama seperti hidupku,tidak ada keceriaan dalam hidupku sekarang.

Aku menutup mataku sejenak sambil bersandar pada kursi bambu. Aku tak tahu apakah aku sedang bermimpi buruk atau tidak,yang kulihat saat ini adalah pesawat yang jatuh dengan kencangnya,kemudian meledak dan menghasilkan suara yang mencekam dan dapat memecahkan gendang telinga.Tiba-tiba semuanya terasa hampa,kulihat diriku yang menangis perih sambil menatap foto kedua orangtuaku.Maih teringat jelas suara televisi yang mencekam,mereka memberitakan tentang kecelakaan pesawat 5 tahun lalu ketika aku masih SMP,terteralah nama kedua orangtuaku sebagai salah satu korban jatuhnya pesawat.kemudian..

“kouichi-kun..kau sudah makan siang?”suara itu melenyapkan mimpiku tadi,aku segera terbangun,kulihatlah adik ibuku sedang berdiri di pintu.

“ah, oba-chan ada apa?”tanyaku meminta ulang pertanyaan.

“kau sudah makan siang?adik-adikmu menunggumu dibawah..ayo lekas..”ajak bibiku seadanya,ia dua tahun lebih muda dari ibuku.

“hai’(ya) aku akan kebawah sebentar lagi..”sahutku pelan. Perempuan itu tersenyum lega,kemudian berlalu.

**

Esoknya..

Aku duduk termenung sambil duduk di  Café khas Francis,aku suka berkunjung kesini.Lokasi Café ini dekat dengan laut, ketika sore menjelang matahari tenggelam tepat diujung laut hingga menyebabkan matahari itu seolah ditelan oleh luasnya laut yang membentang.Wajar saja Café ini sering disebut dengan Sunset.

“Kouichi-kun.. biasanya kau datang ke café ini ketika sunset tiba..tak kusangka kau datang ke café ini pagi-pagi..”tawa seorang pelayan lelaki itu padaku.Aku tersenyum pasti “hari ini aku mau melukis matahari pagi..”jawabku.

“yappa..”ucap lelaki itu sambil menyodorkan makanan yang waktu itu kupesan.

**

Sudah satu jam aku berada di café ini,lukisanku sudah jadi beberapa menit yang lalu.Aku merasa bosan melukis pemandangan setiap hari,sepertinya aku harus melukis seseorang.

Tapi Café masih sangat sepi,aku terus mencari-cari siapa yang akan kulukis,tiba-tiba matakuteralih oleh seorang gadis memakai sweater dan topi bundar yang lebar,gadis itu memandang matahari pagi,kemudian menarik nafas perlahan.Aku mulai tertarik untuk melukis gadis itu,tanpa pikir panjang aku segera melukisnya melalui pembatas berupakaca yang besar.

Setelah beberapa menit,gadis itu tidak bergerak sekalipun,ia masih terpaku memandang matahari yang mulai menaik.Aku juga masih serius melukis wajahnya,tentu saja gadis itu tak menyadarinya.

Ketika aku melihat gadis itu lagi,aku sangat terkejut. Gadis itu menangis dengan perihnya,air matanya berjatuhan melewati pipinya yang putih.Rambutnya ditiup lembut oleh angin,hingga membuat topinya jatuh.Aku dapat melihat wajahnya yang tampak  manis.Tapi aku tak habis pikir,kenapa gadis itu menangis.

**Madoka Furusawa POV**

Aku berdiri di belakang besi yang memanjang , besi itu adalah pembatas antara laut dengan pelabuhan.Aku menatap matahari yang muncul dengan indahnya.Aku menarik nafas panjang dengan nyaman,aku sangat senang. Awalnya ibuku tidak memperbolehkan aku pergi sendirian,aku tetap bersikeras—aku tidak mau ditemani—ibuku ahirnya menyerah,ia memperbolehkan aku kesini dengan syarat harus pulang ke rumah jam 9 nanti. Dan kini aku telah berada di sini,menatap indah hasil karya tuhan yang tidak dapat disamakan dengan semua karya manusia,aku ingin tetap disini.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh di jantungku,rasanya menyakitkan.Aku sudah biasa merasakan sakit ini,tapi ini terlalu sakit.Jantungku seolah lemah akan udara luar.

Aku menangis dengan pedihnya.Sungguh,tuhan kenapa aku harus menerima ini?aku sungguh tak ingin menerimanya , aku ingin bebas.Angin menghembusku dengan pelan,aku tetap menangis—aku benci penyakitku ini.

“Daijobu desu ka?”Tanya pelan seseorang,aku memalingkan mataku kebelakang.Tampak seorang lelaki berjaket abu-abu menyodorkan sebuah topiku yang jatuh tadi,aku tertegun melihat topi itu kemudian lelaki itu. Ia menatapku seolah ingin memelukku sekarang juga,matanya yang berwarna coklat  dapatku lihat.

“ah..go..gomen na sai.. Arigatou Gozaimasu..”sahutku pelan,wajahku langsung memerah akibat malu yang kurasa,mungkinkan lelaki itu melihatku menangis?

“kau baik-baik saja?”Tanya Lelaki itu lagi.

“emm.. ya..”ujarku ragu.

“ah.. gomen na sai aku ikut campur..”ujar lelaki itu  mengacak-acak rambutnya,    “kau buat aku khawatir..”pelannya.

“apa?”tanyaku.

“ah..lupakan..”ujarnya cepat,ia tampak gugup.

Kulihat jam tanganku,sudah jam 9 lewat.Astaga!Okaa-san bisa marah!

“ah..aku harus pulang.. Arigatou Gozaimasu…..”sejenak,aku terdiam aku tidak tahu nama lelaki itu.

“namaku Sakakibara Kouichi.”sahut lelaki itu seolah mengerti.

“Arigatou Gozaimasu Sakakibara-san!”ujarku sambil pergi.

*Sakakibara Kouichi POV*

Aku hanya bisa terdiam membiarkan gadis itu pergi,ia melupakan topinya yang masih ditangannku.Shikata nai,aku harus menjaga topi ini sampai pemiliknya kembali,kapanpun ia datang.

**

Aku kembali duduk di kursiku semula,kulihat lukisanku yang masih setengah dibuat.Aku menghela nafas,aku takkan tau kapan aku akan menemui gadis itu lagi.

*Author POV*

Semuanya terasa berbeda ketika Madoka berada di kamarnya kembali,semuanya terasa sepi. Madoka segera mematikan lampu dan menutup matanya.

Beberapa menit kemudian..

“Astaga!topiku tertinggal!”pelan Madoka sambil menepuk pelan pipinya,ia berpikir keras—bagaimana agar topinya itu kembali?

**

Kouichi memandang lukisan seorang gadis dari arah samping yang belum jadi itu,lelaki itu tampak frustasi.Ia kesal tidak dapat melukis gadis itu secara utuh.

“kau baik-baik saja?”Tanya seorang pelayan pada Kouichi,dua lelaki itu memang sudah akrab.

“kurang baik..”sahut Kouichi seadanya.

“woaaa.. siapa ini? Sugoi!!lukisanmu memang selalu bagus..”senyum pelayan itu,ia mungkin heran kenapa mata dan mulut gadis itu tidak ada.

“aku berharap gadis itu datang dan……”

Tiba-tiba salah satu pelayan berteriak pelan “irasshaimase(selamat datang)!” kepada Madoka,Madoka datang kesini untuk mencari lelaki yang membawa topinya kemarin.

Gadis itu duduk membelakangi orang yang sedang dicarinya saat ini,ia tak menyadari Kouichi ada dibelakangnya,begitu pula dengan Kouichi—ia tidak tahu gadis yang ia cari ada didepannya.

Madoka melihat seisi Café yang lumayan ramai,ia mencari Sakakibara-san.Sakakibara yang tidak tahu sedang dicari-cari langsung membayar makanannya di kasir,setelah berbalik dilihatnyalah Madoka Furusawa yang masih duduk dengan gugupnya,ia seperti tidak biasa dengan keramaian.

“Hei!!”teriak Kouichi membuat Madoka melihatnya,Gadis itu tampak terkejut dan senang. “ah! Kau disini rupanya…”ujar Madoka pelan sambil tertawa.

Kouichi hanya terdiam,ia bingung mau mengatakan apa.

“ah..gomen na sai.. namaku Madoka Furusawa,aku adalah perempuan yang kau temui kemarin..”sahut Madoka lancar. Kouichi hanya mengangguk cepat,ia masih bingung mau mengatakan apa.

“jadi..apa kau masih memegang topiku?”Tanya Madoka lagi.Kouichi tetap diam membisu,ia terpaku melihat gadis itu.

“Sakakibara-san?”Tanya Madoka ahirnya.

“ah!Go..Gomen na sai.. topimu ada padaku..”gugup Kouichi.Madoka tersenyum puas.Kouichi segera pergi ke mejanya yang terdapat topi gadis itu,lelaki itu tampak gugup Kouichi bingung kenapa ia bisa seperti itu,dadanya terasa nyeri.

Madoka melihat lukisan milik Sakakibara yang terletak di atas meja,lukisan yang digambar di selembar kertas dan masih banyak lukisan lainnya,gadis itu mendecak kagum. “kau seorang pelukis?Sugoi desu yo!!”seru Madoka.Kouichi menatap gadis itu dengan aneh.

“kupikir lukisanku sangat tidak bagus..”kata Kouichi.

“tidak..ini bagus!!”bantah Madoka.

Kouichi hanya diam,ia melihat sekeliling.Orang-orang melihat mereka berdua.

“Madoka-san..lebih baik kita berbicara diluar saja..”

**

“aku tak menyangka kau masih menjaga topi kesayanganku ini..”kagum Madoka,Kouichi hanya tersipu malu sambil berjalan bersama gadis itu.Tiba-tiba Madoka berhenti,gadis itu tampak kesakitan.

“ada apa?”Tanya Kouichi.

“lebih baik kita duduk saja..”ujar Madoka menahan perih.

Merekapun duduk dikursi taman yang indah.Kouichi tak hentinya menanyakan kondisi gadis itu,gadis itu masih memekik pelan dengan jantungnya yang sangat sakit.

“aku tidak apa-apa Sakakibara-san… ini sudah sering terjadi..”ujar Madoka setelah rasa nyeri itu mereda.

“maksudmu..?”Tanya Sakakibara tak mengerti.

Madoka menghela nafas kemudian tersenyum pahit. “aku terkena kelainan jantung sejak kecil..”sahutnya pelan.

Sontak Sakakibara terkejut,ia merasa bersalah karena meminta Madoka membuka masalah pribadinya. “tidak apa-apa Sakakibara-san…aku tidak terlalu memikirkannya..”ujar Madoka santai.Sakakibara hanya diam menatap gadis itu dengan perasaan bersalah.

“ah iya! Sakakibara-san.. kau pandai melukis bukan? Bolehkah aku melihat lukisanmu?”Tanya Madoka penasaran,gadis ini sangat menyukai lukisan milik Sakakibara.

“kau yakin?”Tanya Sakakibara tidak percaya.

“tentu saja! Ayo perlihatkan padaku..!”seru Madoka senang.

Sakakibara memperlihatkan setiap lukisannya di kertas gambar,dan hanya satu dilukis di sebuah kanvas.Madoka melihat setiap lembar lukisan pemandangan yang sangat indah,akan tetapi ia belum melihat lukisan yang dilukis di kanvas itu.

*Madoka Furusawa POV*

Aku melihat setiap lukisan milik Sakakibara-san.Sangat indah bagiku,sudah lama aku tidak melihat lukisan di museum dikarenakan kondisi fisikku yang terus menurun.Setelah semua lukisan telah aku lihat,kini aku ingin melihat sebuah lukisan di kanvas yang belum kulihat dari tadi. Awalnya Sakakibara menolak,tapi karena melihat wajahku yang sedih ia langsung memberikan lukisan itu.

Kulihatlah lukisan seorang wanita setengah badan dengan topi bundar sedang melihat laut saat sunset, lukisan itu tampak hidup dan bermakna,hanya satu yang aku bingungkan dalam lukisan ini.  Kenapa mata dan mulutnya tidak dilukis?

“Sakakibara-san.. kenapa mata dan mulutnya tidak kau lukis?”tanyaku bingung.

Sakakibara-san hanya terdiam sambil menggaruk kepalanya,ia juga tampak bingung.

“ketika aku sedang melukis gadis itu, gadis itu pergi tiba-tiba dan aku tidak sempat melukis mata dan mulutnya..”pelan Sakakibara-san padaku.

“sokka..(jadi begitu)”gumamku pelan. “aku ingin sekali melihat kau melukis..”ujarku tanpa pikir panjang,kupikir itu bisa menjadi salah satu hal yang menyenangkan,walaupun aku tak yakin ibuku akan membolehkan. Sakakibara mengernyitkan alisnya perlahan,ia juga tak yakin aku akan melihat dirinya sedang melukis.

“tapi…apa?”Tanya Sakakibara-san tidak percaya.

“ya.. begitulah.. kapan dimulainya?besok?”tanyaku senang.

Sakakibara mengusap dahinya dengan pelan. “tapi kau kan…”

“ayolah Sakakibara-san..aku tersiksa di rumah terus-menerus..kumohon.,.”jawabku dengan wajah puppy eyes.

Beberapa menit kemudian Sakakibara hanya mengangguk lemah.

“pastikan kau  sudah berpamitan dengan Ibumu..”sahut Sakakibara memperingatkan.Aku hanya mengangguk senang,kulihat jam tanganku yang berwarna biru pekat. “Sakakibara-san..aku harus pulang,janji ya besok aku akan datang ke café itu lagi untuk melihat kau melukis..”girangku sambil berjalan pergi.

“hati-hati..am..eh..”gumam Sakakibara pelan,ia tampak ragu menyebut namaku.

*Sakakibara kouichi POV*

“ayolah Sakakibara-san..aku tersiksa di rumah terus-menerus..kumohon..”jawab gadis itu dengan sedih. Aku bingung untuk berkata apa,aku pasti membolehkan akan tetapi masalahnya gadis ini mempunyai kelainan jantung dan aku tak ingin kondisi gadis ini makin memburuk dan..

aku tersiksa di rumah ini terus-menerus..

Dibenakku masih terngiang kata-kata gadis itu tadi. Memang benar..

Beberapa detik kemudian aku mengangguk lemah,aku bimbang harus berbuat apa.

“pastikan kau  sudah berpamitan dengan Ibumu..”sahut ku memperingatkan,aku tak mau dia menjadi gadis yang pembohong,kenapa aku memikirkan hal sampai sedetail itu?entahlah..

Gadis itu mengangguk senang,samar-samar kulihat gadis itu memerhatikan jam tangannya.

“Sakakibara-san..aku harus pulang,…janji ya besok aku akan datang ke café itu lagi untuk melihat kau melukis..”girang gadis itu kemudian pergi.

“hati-hati..am..eh..”

Aku terdiam,entah kenapa suaraku hilang ketika memanggil gadis itu,seolah sangat menyakitkan untuk kupanggil namanya.

**

Hari berikutnya,ternyata gadis itu datang.Ibunya berbicara sebentar denganku,wanita paruh baya itu sangat berterimakasih karena ada seseorang yang dapat menemani putrinya setelah aku ditanya berbagai macam pertanyaan yang aneh.

Madoka tampak senang ketika melihat aku melukis,ia selalu memekik senang. Menurutku itu sangat kekanakan,wajar saja..

Madoka jarang keluar rumahnya dan menghirup udara luar yang sering kuhirup,Madoka jarang melihat sesuatu yang baru diluar sedangkan bagiku itu adalah sesuatu yang sudah sering terjadi,aku sungguh sedih melihat gadis ini.

Gadis polos ini selalu mau mendengarkan semua cerita yang aku ceritakan,ia mengaku sangat menyukai semua cerita,berita,hal yang lucu yang kuceritakan.Terkadang aku menahan tawa ketika gadis itu menceritakan hal-hal konyolnya ketika sendirian di rumah. Terkadang gadis itu juga tidak bisa datang setiap hari,ia harus check up ke dokter,dan tentu saja aku kesepian,kenapa aku kesepian?aku tak tahu…

Begitulah seterusnya hingga kami semakin akrab.

**Madoka Furusawa POV**

Aku sudah sangat sering melihat Sakakibara-san melukis,dipikiranku masih terselip sebuah pertanyaan yang tidak pernah Sakakibara-san jawab.

Kenapa lukisan gadis yang tanpa mata dan mulutnya itu tidak pernah dilukisnya lagi?

“Sakakibara-san..”panggilku.

Sakakibara hanya diam memandang sesuatu,ia tampak sedih.Kulihat Sakakibara sedang memandang sebuah keluarga yang sedang makan bersama di Café ala Francis ini,keluarga itu tampak senang dengan dibanyaknya tawa diantara mereka,tampak sekali mereka sangat akrab.

“kenapa kau memandang mereka?”tanyaku bingung.

“jika aku melihat keluarga seperti mereka aku selalu rindu dengan orangtuaku..”jawab Sakakibara sambil tersenyum pahit.

“kau tinggal menelepon ibumu atau ayahmu..”ujarku pelan dengan polosnya.

“jika bisa,pasti aku akan melakukannya sekarang..”

Aku memandang Sakakibara dengan tidak mengerti,Sakakibara menghembuskan nafas panjang kemudian mengacak lembut rambutku.

“mereka sudah tidak disini..”pelan Sakakibara namun pasti.

Aku terdiam dengan perasaan bersalah.

“jadi…”

“ya,mereka sudah tiada sejak aku smp dulu,mereka meninggal akibat kecelakaan pesawat..”pelan Sakakibara.

“gomen na sai Sakakibara-san,aku  tidak bermaksud..”

Sakakibara segera memotong “sudahlah..ini memang hal yang wajar..”

Aku terdiam sejenak.Sakakibara hanya diam sambil menatap lukisannya.

“Sakakibara-san…”

Lelaki itu memandangku,ia bingung kenapa aku memanggil namanya.

“jika kau diberi impian saat ini juga,dan akan segera di kabulkan..apa yang akan kau impikan?”Tanyaku,aku bingung kenapa harus menanyakan itu.

Sakakibara terdiam sejenak.

“aku hanya ingin bertemu orangtuaku..saat ini saja,walaupun hanya sekedar bayangan..aku masih ingin melihat senyum mereka..melihat tawa mereka,marah mereka..”sahut Sakakibara.

Aku sedih mendengar lelaki itu,ia sudah ditinggalkan oleh orangtuanya ketika ia masih duduk di bangku SMP.

Sekarang giliran Sakakibara yang bertanya “kalau kau..apa impianmu?”

Aku tersenyum.

“aku ingin jantungku dapat sembuh dan menyelamatkan semua anak yang bernasib sama denganku,aku tahu betapa hancurnya masa depan mereka ketika tidak bisa kemanapun,dan terus terkekang..”seruku,sedangkan Sakakibara hanya diam.

“Madoka-chan..”

Aku terkejut,Sakakibara-san memanggilku dengan sebutan ‘chan’ ? apa aku salah dengar?

“ah.. Sakakibara-sa……..”

Lelaki itu mencium pelan keningku,tangannya yang besar memegan bahuku,dapat kurasakan tangannya bergetar.Entah kenapa jantungku terasa nyeri,aku menahan nafasku aku takut jika aku menghembuskannya, dadaku pasti akan terasa sakit.

Sakakibara-san hanya tertunduk,kemudian memandangku lekat-lekat. Ah!kenapa aku bisa segugup ini?

“Madoka-chan…”panggil Sakakibara-san pelan dan lembut.Aku yang awalnya tertunduk langsung mengangkat wajahku,dan kami saling bertatapan.

“boku no soba ni ite kurenai?”ujar Sakakibara pelan.

Apa?mataku membesar ketika mencerna kalimat tadi.kalimat itu…

Maukah kau berada di sisiku?

**Sakakibara Kouichi POV**

Aku telah mengatakan semuanya,itu saja. Aku sudah menyadarinya dari awal..

Dibenakku,gadis ini harus kujaga dengan baik dan takkan pernah kulepaskan dia,walaupun..

“Sa…Sakakibara-san..”panggil Madoka padaku.

Aku hanya menunduk pelan,aku sangat bingung mau mengatakan apa. Senang,malu,sedih begabung menjadi satu sekarang.

“kau yakin dengan orang menyedihkan seperti aku ini?”sedih Madoka , ia mulai menyindir dirinya sendiri.

“itu tidak ben..”

tiba-tiba ia memekik dengan perih , ia kesakitan—sangat kesakitan. Ia terus mencoba meredakan tapi tidak berhasil. Aku sangat gugup melihat kondisinya yang lain dari biasanya. Detik kemudian gadis itu jatuh pingsan,

Kumohon Madoka..

**

Dokter itu mengangkat alisnya,ia melihat hasilnya.Dokter itu sudah tampak pasrah.

“ada apa dokter?”Tanya ibu Madoka parau,sedangkan suaminya dan putranya hanya dapat pasrah,aku yang juga disana hanya diam membisu seolah patung yang sebentar lagi akan dihancurkan.

“Madoka-san takkan bisa hidup lama..”sahut Dokter itu pasrah.

Aku yang mendengar berita itu seolah kehilangan nyawa,jika gadis itu pergi..

Impiannya takkan tersampai..kenapa waktu untuk gadis itu sangat cepat?

Sudah beberapa menit aku mematung,memikirkan sesuatu yang harus kulakukan. Ya,aku harus lakukan itu!hanya itu yang bisa kulakukan demi gadis itu,aku tak mau ia pergi tanpa sesuatu yang dapat ia banggakan didunia ini.

**Madoka Furusawa POV**

Semuanya terlihat gelap,yang kurasakan saat ini hanya sebuah genggaman hangat. Perlahan kubuka mataku,kulihat keluargaku yang memanjatkan puji syukur.

“kamu selamat nak..”pelan Ibuku dengan linangan air mata.

Kenapa ini?ada apa ini?

“Madoka-chan..sekarang kamu mempunyai jantung yang baru ditubuhmu..”ujar Ayahku dengan anggukan senang Oniichan.

Jantung baru?siapa yang memberikanku jantung baru? Siapa yang mendonorkan jantungnya?

“okaasan..siapa yang mendonorkan jantung padaku?”tanyaku.

Awalnya Okaasan hanya diam dengan perasaan bimbang,kemudian dia mengambil sebuah surat berwarna kuning lembut yang bertulisan

‘dear Madoka Furusawa’

**Author POV*

Madoka membuka surat itu,ia membaca setiap tulisan disana. Detik kemudian,air mata itu jatuh mengalir di pipinya.Gadis itu menangis dengan sedihnya,ia tak percaya sangat tak percaya bahwa yang mendonorkan jantung untuknya adalah Sakakibara Kouichi?

Dear,Madoka Furusawa

Selamat! Kau sudah mendapatkan jantung baru saat in! yeay!

Bagaimana rasanya?

Semoga kau senang dengan hadiah terahirku saat ini,hanya itu yang aku bisa berikan padamu.

Kini kau dapat merasakan detak jantungku bukan? Kau akan tahu seperti apa jantungku berdetak ketika kau ada,kau akan tahu seperti apa jantungku berdetak ketika kau tersenyum padaku,kau akan tahu seperti apa jantungku berdetak ketika aku mencium keningmu?kau sudah merasakan jantungku yang berdetak sangat cepat.

  Jangan pernah menangis akan kepergianku,jangan pernah menyalahkan dirimu.

Jika kau seperti itu, berarti jantungku di tubuhmu tidak berguna.

Aku tidak keberatan jika jantungku didonorkan untukmu..

Ketika aku mendengar impian terbesarmu,aku menjadi tahu..

Impianmu lebih besar daripadaku..kau masih punya banyak waktu untuk melihat dunia luar.. kau sudah dapat bermain dan menghirup udara dengan nyaman sekarang.

Gunakanlah jantungku untuk impianmu..

Kau tahu? impian ku juga sudah terkabul..

Aku akan bertemu dengan orangtuaku.. aku juga berharap impianmu akan terkabul..

Kau ingat dengan lukisan seorang gadis yang pernah aku buat?

Sebenarnya kaulah seorang gadis yang ada dilukisan itu..

Waktu pertama kali aku melihatmu..aku langsung melukismu..

Aku mencoba melukis wajahmu yang sedang ceria,akan tetapi kau menangis tiba-tiba. Sehingga membuatku bingung harus melukis apa? Dengan wajah ceria atau sedih?

Kini aku tahu..

Aku memang harus melukis wajahmu yang sedang ceria. Kau tahu maksudku kan?

Aku tak ingin kau menangis lagi. Aku ingin kau ceria setiap saat.

Hanya itu saja..

Tapi..

Bolehkah aku menyebutkan 2 kalimat  untukmu?

-boku no soba ni ite kurenai? (bolehkah aku berada di sisimu?)

-anata ni aete, yokatta (aku beruntung bisa bertemu denganmu)

Sayonara,Madoka-chan..

jaga dirimu baik baik ..

Sakakibara Kouichi.

THE END