Tag

, , , , ,

  • Tittle : You Just My Imagination
  • Author : Pie Cherry
  • Genre : School Life, Family, Sad *maybe*, Horror *maybe*
  • Rating : PG-13
  • Main Cast : – YOU as Park Soo Ra
    – Kim Jong In // Kai (EXO K)
  • lenght : One Shot
  • note : ini FF rada typo =.= mohon maaf~
  • WARNNING!!  :: diharapkan untuk tidak menghayal seperti yang ada dicerita ini (contohnya, menganggap gambar kalian itu hidup) jangan Mengikuti isi FF ini (COPAS) dan mencontohnya (PLAGIAT)

*~Park Soo Ra POV~*

 pagi ini terlihat berbeda, ruang kelas terlihat amat ramai. Mereka tersenyum padaku, bahkan menyapa dan menyunggingkan tawa hangat dimasing-masing sosok disana.

Akankah aku bermimpi?

 Aku bergetar disisiku, mencoba memahami disekitarku, mereka menepuk bahuku dengan pelan. 

Apa masih adakah caci maki? masih adakah senyuman dan pandangan dingin itu? dingin hingga menyeruak kedalam hati kecilku. dingin hingga menusuk tulangku.

 Semuanya seolah penuh dengan warna pastel yang lembut, tak ada lagi nada mencekam yang membuat bulu ini bergidik ngeri, kini melodi lembut teralun menyapa telingaku.

Tapi, mengapa semua itu lenyap?

 Senyuman itu menguap seketika, apakah tadi mereka hanya membuat senyuman palsu? mereka tiba-tiba menghampiriku, senyuman hangat mereka berubah menjadi senyuman yang paling mengerikan bagiku, senyuman dingin sedingin malam, bahkan lebih dari itu.

           “Soo Ra!!! KAU ITU HANYA SAMPAH!!”

  ‘brak’

Aku mendapati sisiku dalam kamar bernuansa kuning lemon ini. Bibir bergetar dengan hebatnya, keringat dingin mengalir dengan deras, nafas ini terasa hilang dan mencoba untuk tetap membuat pemiliknya tetap bernafas. Oh Sial! ternyata itu  memang mimpi, mimpi yang memuakkan!

*Author POV*

Wanita paruh baya itu memandang wajah anaknya dengan cemas, ia mendelik kearah suaminya yang hanya sibuk membaca tiap tulisan yang ada di korannya pagi ini. Ia tak pernah tahu, atau mungkin tak ingin tahu dengan keadaan anaknya saat ini, ia maupun suaminya hanya sibuk dalam berkarir. Mereka memang keluarga yang menyedihkan, menyedihkan dalam sisi mengurus anak semata wayang mereka.

  Sekali lagi, wanita itu memandang wajah anaknya yang terlihat muram, anak itu seperti ingin mendapatkan perhatian darinya, tapi anak itu seolah menghindar dan terus menjauh, tanda ia tak peduli dengan orangtuanya.

  Park Soo Ra, atau lebih dikenal Soo Ra terdiam membisu dengan pandangan mata yang kosong. Mata coklat darinya hanya memacu pada roti bakar yang telah dingin.

   “Soo Ra.. kamu tida..”

   “aku berangkat..” Soo Ra berdiri tanpa menghiraukan suara lemah itu, sempat ekor mata gadis itu melihat sosok keduanya, Eomma yang selalu terlihat cemas, padahal dia tak pernah mengerti perasaan anaknya dan Appa yang terus menyorot gadis itu dengan beribu omongan yang memuakkan baginya.

  Gadis itu takkan pernah perduli.

kalian takkan tahu aku seperti apa!!

~

Gadis itu menggeser pelan pintu kelasnya, masih sepi dan selalu sepi jika jam masih menunjukkan 06.27 . Ia berjalan maju menghampiri sebuah kursi yang paling menyedihkan baginya, kursi yang berada tepat dipojok kelas ini. Berbagai coretan hinaan penuh menghias meja dan kursinya, tetapi gadis itu hanya duduk dan diam. Ia segera meronggoh sebuah buku gambar kecil dalam tasnya, ia membuka lembar pertama dan seketika itu juga angin lembut menerpa. Senyum rahasia itu terpampang jelas dibibirnya, sambil mengelus pelan sebuah sketsa seorang lelaki yang tentu saja, tampan.

  “Annyeong haseyo..Kai” bisik gadis itu pelan.

  “kau terlalu cepat pergi kesekolah Soo Ra..” sebuah suara lembut itu hadir, dan cukup membuat gadis itu tersenyum lembut padanya.

  “Kai? bagaimana kabarmu?” ujar Soo Ra pada sketsa gambarnya yang ia beri nama ‘kai’, sosok manusia yang sebenarnya tidak ada.

  “cukup baik, soo ra..aku yakin hari ini kau melawan ibumu lagi..”

Soo Ra mengerutkan alisnya dengan perlahan. ia bertanya-tanya kenapa lelaki itu tahu? tapi sebenranya itu adalah sesuatu yang membuat ia senang, senang bahwa Kai bukan sekedar sketsa baginya.

“kau tahu?” Soo Ra tertawa pelan “ternyata kau memang manusia asli Kai!”pekik gadis itu senang, Kai mendengus pelan.

aku hanya khayalan yang ada didalam pikiranmu, Soo Ra” ujarnya sambil melipat kedua tangannya didada.

  **Park Soo Ra POV**

Aku menatap  sosok yang sebenarnya tidak ada itu, Kai. Dia berupa khayalan bagiku. dia hanya sebuah sketsa gambar yang kubuat, tapi bagiku dia itu seolah hidup dalam diriku, dia teman satu-satunya bagiku.

Kai masih melipat tangannya dan segera menuju kearahku. Tampang nya yang gagah itu menghiasi pandangan mata ini.

   “sebaiknya..” ia menghela nafas panjang dan terdengar berat, “sebaiknya, kau berhenti menggambar sosok Kai yang ada pada diriku..”

  “Kenapa?”

Cukup lama Kai terdiam dan mencoba mengatur nafasnya, ia berdeham dan terduduk lemas.

  “aku tak ingin,” ia mengalihkan pandangannya padaku “aku tak ingin kau dianggap gila, hanya karena diriku” semuanya terdengar sunyi. percuma, mereka sudah menganggapku gila bahkan lebih dari itu, sudah dari dulu aku tak mempunyai teman, bahkan keluargaku pun seolah tak menganggapku ada didunia ini.

  “percuma Kai..” sahutku pelan, setetes air mata jatuh perlahan. Aku mengusapnya dengan tergesa-gesa, tidak, aku tidak boleh menangis di depan Kai. Aku tak ingin terlihat lemah didepannya.

Kai menghampiriku dan segera mengusap pelan rambutku, kulihat wajahnya yang sedikit gelap,  ia tersenyum pelan dengan lembutnya, betapa indahnya senyuman itu, aku suka senyumannya walau dia hanya khayalanku.

Ini memang terlalu gila dan kekanakan disaat umurku mencapai 16 tahun, dan aku tahu hidupku begitu tersia-sia, tapi aku sudah cukup bahagia jika Kai masih berada disampingku.

**

Pelajaran berjalan dengan baik, tapi entah mengapa teman-teman tidak pernah baik seiring berjalannya waktu. Mereka masih tetap memasang tampang sinis, tetap menghina dan lain sebagainya.

  aku hanya ingin bertanya satu hal kepada kalian. Kenapa aku begitu kalian benci?

 Kuusap seluruh wajahku dengan perlahan, air kran ini terasa dingin, terasa hampa.

 ‘brak’

 Sunyi, mereka menatapku dengan tajam. Seolah tak ada ampun bagi diriku, mereka mengangkat ujung bibir mereka dengan angkuhnya. salah satu pemimpin dalam anggota itu melotot kearahku.

 “kau disini? sudah kuduga kau memang layak tinggal di toilet” seluruh geng mereka tertawa, membuat gaduh ruang toilet yang awalnya sepi.

Tertunduk, hanya itu yang dapat aku lakukan. Hanya itu kekuatanku untuk melawan mereka. Tiba-tiba salah satu dari mereka mendekatiku dan mengacungkan telunjuknya tepat didepan wajahku.

  “kuingatkan satu hal untukmu, jangan pernah bersikap baik pada guru dan menjadi juara kelas untuk selamanya! kau membuat aku selalu kalah darimu!” bentak yeoja dingin itu kemudian pergi melangkah pergi bersama pengikutnya.

  >Flashback<

aku tersenyum bangga ketika melihat tulisan ini, ya aku berhasil menjadi juara satu. Senyum dibibir ini tak berhenti pudar. Kutatap wajah Hye ah dengan senang, kuyakin sahabatku itu juga akan senang.

  “Hye ah! lihat-lihat!” seruku pada perempuan itu, ia terduduk lemas dengan kertas yang dipegangnya. Ia melihat isi kertas itu dan terdiam sejenak.

Ia menatapku dengan tampang tak percaya. “kau?”tanyanya.

aku mengangguk yakin, dan tersenyum senang. Kuambil kertas miliknya dan membacanya. senyumanku berubah seketika itu juga dan menatapnya dengan tidak percaya. Ia menatapku dengan pandangan mata yang berarti ia tidak senang. Ia merampas kertas itu dan merobeknya bersama kertas yang kupunya.

  “percuma saja aku berteman denganmu!”

Ia melempar seluruh sobekan kertas itu dan berlalu pergi. 

Hari demi hari, semuanya terasa berbeda, kelas ini terasa sunyi, terasa hampa. senyuman mereka perlahan pudar dan menghidariku. 

Hye Ah hanya menatapku dengan bosan dan selalu pergi menjauh dariku.

ketika aku menginginkan seorang ibu dan ayah dalam kondisi ini, mereka hanya mencoba menjauh dan berlalu begitu saja.

>>flashback end<<

Sore ini, aku berjalan dengan perasaan hampa. jika kuingat saat ketika aku dan Hye Ah pulan bersama dijalan ini, kami tertawa, dan kupikir kenangan itu hanya sekedar mimpi indah yang sudah tak pernah lagi ada. dia adalah sahabat yang paling kusayang.

Kutatap matahari senja itu, sangat indah dan begitu berwarna. Ini tak seperti dengan hidupku, begitu gelap.

Bahkan waduk tua di kota ini terlihat indah ketika terkena cahaya matahari senja. Kuasa Tuhan yang tiada  bandingnya. Hamparan rumput liar yang menjalar dan berwarna kekuningan, udara lembab berhembus, aku tersenyum tanda aku senang berada disini.

Sambil duduk diatara rerumputan itu, kubuka kembali lembaran buku gambarku, dan angin lembut menerpa. Tampak wajah Kai  yang sedang menutup matanya, namja itu tersenyum seolah menikmati sore ini.

  “Kai, menyenangkan bukan?”

Kai tersenyum sambil duduk disebelahku, “ya, aku senang berada disini”

aku terhenyak, entah kenapa dadaku terasa sakit.

“Kai” panggilku pelan.

ya?”

aku tertawa hambar, mengacak pelan rambutku. “sebenarnya, kenapa hidupku seperti ini?”

Kai mengernyitkan dahinya. Dan menurutku aku perlu tersenyum disaat yang seperti ini.

“maksudku, hidupku”

“kenapa aku begitu terpojokkan?, kenapa hidupku begitu menyakitkan?  entah kapan aku bisa mendapatkan keajaiban..”

Kai terdiam dan menatapku lurus-lurus kemudian tersenyum.

deg..deg..deg.

  “suatu saat nanti, kau akan tahu kenapa”

  “tapi aku ingin mengetahuinya sekarang” ujarku dengan egois, aku tak bisa bersabar.

Kai menghembuskan nafas panjang.

  “Berdirilah tepat diujung waduk itu” ujar Kai. Aku sedikit bingung, tapi aku segera melakukannya.

benarkah hanya berdiri disini aku akan mengetahuinya?

   “pandangilah air itu, dan kau akan mengetahui keajaiban itu”

kupandang air keruh itu, air yang berwarna kecoklatan dan terlihat kotor. Tapi entah mengapa air itu menjadi jernih dan mengalir dengan pelan. semakin kupandang baik-baik semuanya terasa jelas bahwa air di waduk ini jernih. Seolah tak percaya, kutepuk pipiku. Ouch! sakit.

Kupandangi kembali air itu, tetap keruh. tapi ketika kulihat baik-baik, air itu kembali jernih.

  “Kai?”panggilku tak mengerti.

  “Seperti itulah dirimu, awalnya kau merasa duniamu itu keruh sekeruh air diwaduk ini. akan tetapi jika kau lihat baik-baik.. sebenarnya hidupmu jernih.”

kalimat singkat itu terdengar mengelus hati kecilku. Lantas sebuah cairan bening membanjiri kelopak mataku, seolah tak terbendungkan aku menangis.

  Mungkin aku bisa memperbaiki hidupku yang gelap ini, mungkin hidupku akan sejernih ini bahkan lebih dari itu.

  “Kai.. kau be…”

sebuah tangan besar mendorong bahuku, kakiku seolah terkunci untuk menahan berat badan ini, dan mataku terbuka pada sebuah air yang mengalir pelan, aku terjatuh di waduk tua yang dalam ini.

 ‘byur!’

Nafasku sesak, aku mencoba untuk membawa badanku keatas, tapi air ini seolah menahanku dan menyuruhku untuk tetap terkunci dalam air waduk nan gelap ini.

   Kai? kau kah yang melakukannya? apakah maksudmu aku harus mati saja?

kucoba untuk menggerakkan tubuhku agar dapat membawaku keujung waduk ini. Akan tetapi aku terlalu lemah, aku sukar dalam hal berenang. Semakin lama badanku semakin lemah, aku hampir kehilangan kesadaran, aku mencoba untuk tetap berjuang, akan tetapi mata ini semakin gelap.

  “eomma!!! appa!! gamsa..”

**

Semuanya terasa hampa, gelap dan tak bernyawa. Tapi aku mencoba untuk keluar dari kegelapan ini, berharap mendapatkan cahaya itu, cahaya kebahagiaan yang mungkin dapat merubah hidupku yang kelam.

  Terdengar suara tangis.

 siapa yang menangis?

  suara tangisan yang amat perih.

 apa aku yang menangis?

Sentuhan lembut terasa dipipi ini, dan seolah memberikan kehangatan yang terus menjalar keseluruh tubuhku. Tiba-tiba kegelapan itu menghilang, sebuah cahaya kecil terus menyeruak menyilaukan mataku. Seketika semuanya penuh dengan cahaya kekuningan bahkan menyilaukan mataku.

Kulihat Eomma menangis, kulihat Appa juga ikut menitikkan air matanya yang tak pernah sekalipun kulihat. Dan juga, semua teman bahkan Hye Ah menatapku dengan haru, bukankah..

Akankah aku bermimpi lagi? kenapa mereka bersedih seseorang yang meneydihkan ini? kenapa?

Eomma langsung memelukku dengan erat, tubuh hangatnya membantuku yang sedang kedinginan ini.

 “Ke..kenapa?”

  “Soo Ra.. Maafkan Ayah dan Ibu mu ini” ujar Ibuku sambil terisak.

Itu sudah membuatku terkejut, badanku terasa lemah dan kaku.

  “selama ini kami jarang memerhatikanmu, kami selalu sibuk dengan pekerjaan kami..”

Aku masih diam membisu, tak percaya.

  “kami betul-betul menyesal”

Hye Ah dan semua temanku datang menghampiri orang yang menyedihkan ini. Wajah mereka kusut namun mereka tetap tersenyum haru.

  “Mian Soo Ra” isak Hye Ah. “atas semuanya, kami semua turut menyesal, selalu menyiksa dan memojokkanmu” aku masih diposisiku, diam membeku.

   “maukan berteman dengan kami lagi?”

Badanku bergetar, setetes air mata itu jatuh dengan mudahnya dan disusul oleh tetesan selanjutnya. Aku menangis dengan keras, begitu beratnya hidupku dulu yang penuh dengan  kehidupan yang kelam dan keruh, dan sekarang telah jernih kembali.

  “Seperti itulah dirimu, awalnya kau merasa duniamu itu keruh sekeruh air diwaduk ini. akan tetapi jika kau lihat baik-baik.. sebenarnya hidupmu jernih.”

Kai, kau kah yang memberikan keajaiban dari tuhan itu?

**

 2 Minggu kemudian.

 “Eomma..” Ibuku mengalihkan pandangannya kearahku, dan memasang wajah bingung. “kenapa Soo Ra?”

Aku menggigit bibirku dengan pelan, “ketika aku tenggelam 2 minggu yang lalu, apa Ibu menemukan buku gambarku?”

  sudah 2 minggu ak mencari-cari buku gambar kesayanganku itu, entah dimana Kai sekarang.

  “mungkin Eomma menaruh di gudang, coba kamu periksa”kata Eomma sambil tersenyum. Aku mengangguk, dan segera pergi menemukan buku gambar itu, apakah kai akan marah padaku? setelah 2 minggu ini aku tidak ada berbicara dengannya.

 Dan ahirnya aku menemukan buku gambar itu, aku tersenyum senang. Kubuka lembarannya, entah kenapa tidak ada hembusan angin yang biasa kurasakan.Mata ini terbelalak kaget ketika melihat semua lembaran di buku gambar itu hilang hanya menyisakan warna putih dari kertas itu. Tidak ada gambarku disana, dan tidak ada sketsa wajah kai yang terlihat.

Menangis, ya aku kembali menangis ini bukan masalah tentang cengeng atau tidak. Tapi masalah betapa aku kehilangan teman terbaikku. Entah kenapa dia itu adalah Khayalanku yang hidup dan akan selalu hidup.

  “Gomawo..Kai”

**

2 bulan kemudian..

Hye Ah menatapku dengan senyum dibibirnya “Soo Ra-ya. aku dengar kelas kita akan datang seorang murid baru!”

 Aku mengernyitkan dahiku sejenak “oh ya? siapa?”

Hye Ah memukul bibirnya dengan telunjuknya “ng.. namanya, Kim, Kim Jong In”

Kim Jong in?

Guru itupun datang, Ia mulai menjelaskan akan kedatangan seorang murid baru.

Pintu kelas tergeser pelan, datanglah sesosok lelaki jangkung dengan seragam yang dikenakannya.

  Lelaki itu berhasil membuatku terpaku untuk melihatnya, benarkah yang kulihat ini?

 Lelaki itu tersenyum, kulit gelapnya membuat ia terlihat tampan.

 Apa mataku salah melihat?

 Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai Kim Jong In.

 Sekali lagi? apa ini memang benar atau hanya mimpi?

 Lelaki itu, sangat mirip dengan Kai.

  “Jong In, kau boleh duduk disamping Soo Ra”perintah guru itu sambil menunjuk bangku yang kosong.

Lelaki itu segera duduk disampingku, Ia tersenyum dan sempat membuatku merasakan detakan jantung yang lebih cepat dari yang biasanya.

  deg.deg.deg.

  “K..Kai??” tanyaku tak percaya, atau mungkin sedikit percaya namun takut untuk percaya. Lelaki yang sangat-sangat mirip dengan Kai itu mengernyitkan dahinya.

  “Namaku Kim Jong In, bukan Kai” ledeknya sambil tertawa.

Aku masih membeku, apa dia Kim Jong In yang menyamar menjadi Kai? atau Kai yang menyamar menjadi Kim Jong In?

Aku masih memasang wajah tidak mengerti, Namja itu berhenti tertawa kemudian mengacak rambutnya dengan pelan.

  “siapa namamu?”tanyanya sambil mengulurkan tangannya, wajahnya terlihat memerah.

Aku sedikit ragu, namun aku tetap menjabat tangannya.

 “Park Soo Ra Imnida..”

Lelaki itu tersenyum manis, sangat persis dengan Kai.

 “apakah aku memang mirip dengan orang yang bernama Kai itu?” tawa Jong In pelan.

Aku hanya mengangguk dan tetap membeku.

  “jeongmal?”

Aku kembali mengangguk. Dan itu sungguh hal yang paling bodoh yang aku lakukan.

  “Goraeyo…” sahut Jong In geli “Gwechana” tambahnya.

  “Kau boleh memanggilku Kai, Soo Ra-ssi”

The End

Terimakasih sudah membaca🙂 kritik dan saran sangat diperlukan.