i know why you cry

Tittle : I know why you cry

Author : Pie Cherry

Main Cast :

-Kim Joon Myun

-Lee Hanna(OC)

-EXO k member

Genre : Romance,Hurt, happy ending~ (?)

Rating : G

Length : DRABBLE ? One shoot? Molla =,=

N/A : – maybe not a perfect story, but I hope you like it ^^ eh, aku akan terus makai Joon Myun POV J bingung mau bikin POV nya si Lee Hanna bikin ane bingung (?) <–kalimat amburadul.

 

**Happy Reading**

Panas. Hari ini cukup panas, bahkan pendingin ruangan tak sanggup menahan panas dari luar sana. Latihan hari ini cukup sudah, kuhembuskan nafas sedikit berat ternyata menjadi sebuah Leader dalam sebuah anggota itu cukup menyulitkan.

Hyung.. kau terlihat lelah” tanya Kyungsoo dengan tatapan khawatir darinya.

“bisa dibilang begitu..”ujarku pelan, sedikit sibuk dan egois pada diri sendiri.

“Baru kali ini rasanya, panasnya sampai membuat kepalaku pusing..”keluh Chanyeol, dan diiyakan oleh member lainnya. Hanya aku yang diam, sambil terbaring di lantai. Kutatap keluar jendela besar ini, kawasan kota Seoul yang indah terlihat menyilaukan akibat sinar matahari yang panas. Entah kenapa.. aku jadi teringat saat-saat itu..

**flashback>>

  Kuhembuskan nafas ini dengan berat, lelah sungguh hari ini sangat lelah bagiku. Menjadi inti Osis di Sekolah memang memberatkan. Dan hari ini baru pertama kalinya aku bisa menghirup udara. Sambil memandang lautan indah dengan hiasan matahari sore saat ini, aku baru sadar jika di Seoul ada tempat indah ini, tempat dimana kita dapat melihat sunset yang indah.

  ‘tuk’ sebuah topi pantai membentur kepalaku, tidak sakit tapi sempat membuatku terkejut. Seorang gadis dengan pakaian dress one piece putih berlari menuju kearahku. Ia mengambil topi lebar itu dan bergumam tidak jelas. “ma..maafkan aku!” ujarnya sambil membungkuk. Hanya bisa terdiam, karena begitu terpaku akan kecantikan gadis itu, mata besar yang dimilikinya dan bibir merah miliknya.”a..a.. ne, gwechana..”mataku masih pada matanya, ia terdiam dengan wajah memerah. “maaf..apakah ada yang aneh diwajahku?”

  Ketika pertanyaann itu terlintas, aku segera mengubah sudut pandangku. Dasar babo..

  “kalau begitu, saya numpang pamit dulu.. terimakasih” suaranya terdengar lemah lembut, kemudian gadis itu segera pergi.

Keesokan harinya, aku sudah melihat gadis itu berada didepan kelas, memperkenalkan dirinya, dan menyapa dengan ramah, dan dia menjadi murid baru di kelas kami sebagai Lee Hanna.

  Awalnya, kami hanya mengobrol masalah tentang pelajaran, dan semakin lama gadis itu semakin akrab denganku. Entahlah, apakah ini yang namanya teman?

“kau mau menjadi apa besar nanti?”

“entahlah..”

“jawab dengan benar, Joon Myun-ah!”

“aku juga tidak tahu..”

“mungkin suatu saat kau akan menjadi penyanyi?”

“aku tidak..aku tidak yakin”

“kau bagus dibidang itu..”

“….”

“suatu saat nanti, jika kau memang menjadi seorang penyanyi..aku akan menjumpaimu dan menjadi penggemar pertamamu”

“aku akan pura-pura tidak mengenalmu..”

“aah! Dasar jahat!”

“hahahaha-“

Hanna berdiri dari kursinya dan tersenyum pelan, ia kemudian berkata “aku berjanji!”, saat itu aku hanya bisa terpana pada sosoknya, dan hanya bisa diam mendengar pernyataan itu.

**Flashback end**

  “Hyung.. aku lapar..”

“kau bisa memintanya dengan Kyung Soo, Sehun-ah”

“ah, ya.. benar juga” Sehun tertawa kemudian berteriak pelan “Kyungsoo-Hyung, aku lapar..”

“hei..bagaimana kalau spaghetti?” Baekhyun datang secara tiba-tiba.

“baiklah.. aku akan membuatkannya untuk kalian!” Kyung soo terlihat bersemangat.

Beberapa menit kemudian, spaghetti sudah siap diatas meja, Jong In terlihat senang dan segera memakannya dengan cepat. Spaghetti yang masih panas itu, dan aromanya yang harum.. sama seperti..

>>Flashback>>

“bagaimana? Enak bukan?”

“aah! Ya enak sekali!”

“baguslah! Aku tak sia-sia mentraktirmu disini” Hanna bertepuk tangan, dan terlihat kekanakan.

Selama beberapa menit, kami hanya sibuk memakan spaghetti kami.

 “hei.. Myun-ah”

 “mwo?”

“minggu depan..”

“waeyo?”

“minggu depan.. aku akan pindah ke jepang..”

Aku berhenti mengunyah, dan memandangnya dengan serius. Minggu depan juga acara kelulusan.

 “minggu depan? Secepat itukah?”

Hanna hanya mengangguk, dan tertunduk menatap spaghetti-nya yang tinggal setengah.

 “aku tak tau kapan aku akan pulang ke Seoul lagi.. mungkin kami takkan kesini lagi”

Aku hanya diam, bingung harus mengatakan apa. Gadis itu sibuk memainkan sendok spaghettinya.

  “dan juga..” Hanna menaruh sendoknya dengan pelan.”aku akan dijodohkan..”

Deg..

Aku terdiam, serasa badanku telah rapuh, nafasku tercekat. Kulihat Hanna hanya menunduk, apakah ia tahu aku tak ingin mendengar kalimat tadi? Babo.. seharusnya aku menyemangatinya.. ini bukan saatnya egois pada perasaanku sendiri.

 “oo..oh ya? Bagaimana? Kau sudah mengetahui siapa yang akan menjadi suamimu?” apakah gadis itu menyadari bahwa suaraku terdengar keras?

  “n..nde.. ia seorang yang baik, selalu berkata dengan lemah lembut-“ dia terdiam kemudian melanjutkan “dan juga..dia bilang dia mencintaiku..”

Seolah ada sebuah batu yang memberatkan pundakku. Aku ingin gadis itu membatalkan niatnya untuk bersama lelaki itu. Tapi, menurutku aku adalah orang yang egois, apa aku bisa hidup dengan gadis ini jika aku membawanya lari dari perjodohan itu? Aku yang kurang mampu apa bisa membuat gadis itu bahagia kelak? Apa keluarganya yang kaya itu mau mempunyai menantu sepertiku? Dan kurasa.. Tidak. Hanna lebih bahagia jika bersama dengan lelaki itu. Ya, aku tak boleh egois, aku takkan menangis..

  “wah.. baguslah Hanna-ya! Sekarang kau akan menjadi istri.. baik-baiklah dengan suamimu, aku tak yakin apa kau akan menjadi istri yang baik-“

Hanna segera berdiri dan mendorong kursinya dengan cepat, air mata sudah membasahi pipinya semenjak ia tertunduk tadi. Dan ini pertama kalinya aku melihat ia menangis.

Dia terisak pelan, kemudian menatapku dengan sedih.

  “Myun-ah bodoh!!” ia berteriak pelan kemudian meninggalkan meja dengan segera, meninggalkan aku yang masih terdiam dan meningalkan sosok Joon Myun yang tak menyadari perasaan gadis  itu.

=Flashback end~

Sambil menyesap kopi yang masih mengepul, aku menatap layar televisi dengan kosong. Entah kenapa hari ini dan hampir setiap kejadian yang aku lakukan hari ini membuat aku kembali mengingat masa lalu itu, kenangan Hanna terasa sebentar.

Tiba-tiba terdengar suara pesawat yang melintas, dan aku kembali mengingat saat itu, saat ..

-FLASHBACK~

  Aku hanya bisa tersenyum menatap gadis itu, walau senyumku terlihat senyum menyedihkan. Hanna hanya tertunduk dan tangannya seolah mencengkram erat pegangan kopernya. Kami hanya diam, tak menangis satu sama lain, tak menyatakan “selamat jalan”. Mungkin memang aku yang harus duluan menyapanya.

  “Hanna..”

Hanna mengangkat dagunya sedikit, dan ia menatapku.

 “semoga kau .. semoga kau bahagia disana..” aku tersenyum lagi, dan terlihat menyedihkan.

“aku harap.. kita dapat bertemu lagi nanti, suatu saat nanti.. entah kapan, hehehe-“ liatlah, aku mencoba tersenyum, dan sekarang aku mencoba untuk tertawa. Sebenarnya aku ingin mengatakan ‘aku tidak apa-apa..’

  “ah.. ya.. Myun-ah..”ia terlihat canggung mengobrol denganku.

Tiba-tiba orangtua gadis itu memanggilnya, dan segera menyuruhnya untuk segera berangkat. Ia terlihat semakin sedih, dan tangannya gemetar.

  “sudahlah Hanna.. aku pasti akan mengabari seluruh berita tentang teman kita nanti, tentang Seoul, tentang apapun yang kau inginkan.. I swear” aku mengusap kepalanya dan mencoba menunjukkan bahwa aku akan baik-baik saja. Mata gadis itu telah berkaca-kaca.

 Kemudian gadis itu memegang pundakku dan mendekatkan wajahnya padaku, seketika itu juga dia berbisik.

“saranghamnida”

Ia segera menjauh, dan kemudian pergi. Aku hanya diam, menatap sosoknya yang telah menghilang. Dan seketika itu juga, air mata jatuh dari pelupuk mataku. Aku tersenyum hambar.

 Dan sekarang, Aku tahu kenapa kau menangis waktu itu..

 FLASHBACK END—

Aku tersenyum mengingat kejadian itu, manis dan pahit bergabung menjadi satu. Dan sekarang aku kembali merindukannya, saat topi putihnya terbang menimpa kepalaku, ketika kami mulai akrab, ketika ia menangis untuk yang pertama kalinya, dan ketika ia mengakui bahwa ia mencintaiku disaat ia harus meninggalkanku.

“mau kemana Hyung?”

Aku terdiam sambil memandang kebelakang, “aku .. ingin berjalan-jalan sebentar..”

“bukankah para penggemar akan mengejarmu nanti?”

Aku tersenyum pelan, kemudian memasang topiku. “tenanglah..aku hanya rindu ingin bertemu dengan penggemar pertamaku”

Baekhyun dan yang lainnya terlihat bingung, dan membiarkanku pergi.

**

Ternyata, sudah sore. Aku melihat dengan tenang Sunset yang berwarna jingga kemerahan, sangat indah. Tak terasa sudah beberapa tahun kami tak bertemu, sejujurnya aku..

“Myun-ah..”

Kulihat seseorang yang sebenarnya sangat kukenal, sebuah gadis dengan baju putih miliknya. Mata besar miliknya, dan bibir merah darinya, dia masih terlihat seperti dulu.

“Hanna..”

Seketika itu juga ia menangis dan memelukku dengan erat, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Jantungku sangat berdetak dengan cepat, dan bibirku bergetar.

“aku sangat merindukanmu..”

“aku juga..” aku menjawabnya dengan pelan, dan mulai menyadari bahwa rambutnya sudah sangat panjang. Kami pun melepas dekapan, ia mengusap air matanya dan tersenyum senang.

“kau masih yang dulu Hanna..” aku tertawa pelan.

“kau juga Myun-ah.. bagaimana kabarmu?”

“ah.. nde.. aku baik-baik saja.. aa.. Hanna..”

“ya?”

“bagaimana  kabar..”

Seorang anak kecil datang menghampiri kami, seorang anak laki-laki dengan mata besar mirip dengan Hanna. Hanna kemudian tersenyum, dan memperkenalkan anak itu padaku.

“Myun-ah.. dia anakku” ia memperkenalkan dengan tawa dibibirnya. Aku juga ikut tertawa, “waah.. anakmu sangat mirip denganmu, Hanna” .

Hanna mengangguk senang, “Myun-ah.. kenalkan, dia teman ibu namanya Joon Myun, paman Jong Myun”

Aku tercekat dan menatapnya dengan heran, “dia…?” . Hanna tertawa “ya, nama anak ini sama denganmu, hanya beda marga saja”

Aku tersenyum dan mengusap kepala anak itu, tanpa terasa Hanna sudah mempunyai anak dan tak terasa sudah lama kami tak bertemu semenjak perpisahan itu.

“kau kapan menikah? Aku tak sabar melihat istrimu..”

“ah.. aku masih belum mencari istri.., ah, kamu pindah kesini?”

Hanna menggeleng, “aku masih tinggal dijepang..”

“jadi.. kenapa?”

Hanna tertawa “kau tak ingat? Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku akan menjumpaimu dan menjadi penggemar pertamamu!”

Ah, iya aku ingat. Saat itu.. ya saat itu.

“ternyata kau tidak berubah ya..” aku tertawa dan ia juga ikut tertawa.

Dan jauh disana, kulihat seorang lelaki yang gagah memanggil nama Hanna dan juga anak itu, ia terlihat ramah dan baik hati, dapat kulihat dari ekspresi wajah Hanna padanya. Hanna berbicara kepada lelaki itu, dan lelaki itu segera membungkuk padaku dan tersenyum. Aku membalasnya dengan hal yang sama.

“sudah saatnya kami pergi Myun-ah”

“o..ooh .. ya, selamat jalan Hanna”

Hanna tersenyum “jaga dirimu ne!aku tunggu undangan pernikahanmu!”

Aku tertawa “tentu.. aku pasti mengundang kalian”

Hanna mengangguk senang, dan segera datang mendekati suami dan anaknya, mereka melambaikan tangan mereka padaku dan segera berlalu. Sungguh keluarga yang sangat bahagia.

Hanna, terimakasih.. walau kita berahir tidak bersama, tapi aku bahagia pernah menyukaimu. Sungguh.

-END-