Tag

, , ,

sadending

Tittle :  Sad Ending

Author : Pie Cherry

Main Cast :

-Oh Sehun
-Kim Joon Myun / Suho
-Jung  Soohe (OC)

Genre : Romance.

Rating : PG-13

Length : One Shoot

Note : sudah lama gak post FF (u,u) Hope You like it ! enjoy~

 

=-=-=-=-=-=

“Novel yang kau buat itu selalu berahir sedih” ujarku sambil meletakkan novel dimeja, aku sedikit kurang senang dengan ending dari novel itu.

“benarkah?” tanya gadis itu sambil tersenyum hangat, walaupun matanya masih tertutuju pada layar laptop didepannya dan menyempatkan dirinya menyeduh secangkir coklat panas kesukaannya. Dia tidak terlalu kecewa dengan komentarku tadi, tidak sama sekali mungkin.

“sudah lebih dari 3 novel karya mu pasti selalu berahir menyakitkan..Soohe” ulangku sambil memandang dirinya yang sedang menari-narikan jarinya diatas keyboard. Gadis itu hanya menjawabnya dengan menganggukan kepalanya dan sekali lagi senyum itu masih tertera dibibirnya.

“hei..ayolah . aku serius” aku hampir saja mencoba untuk menutup laptopnya secara paksa, karena itulah dia akan segera berhenti untuk tidak mengacuhkanku. Soohe menghela nafas panjang, “baiklah..baiklah..apa maumu sekarang?” tanya gadis itu pelan dan menatapku lurus, sedikit merasa jengkel dengan tatapannya yang sempat membuat jantungku terasa ingin jatuh.

“sebaiknya.. kau membuat novel yang berahir bahagia..”

“kalau aku tidak mau?”

“oohh.. ayolah..aku benci sad ending, dan ada apa ini? Pemeran utamanya ahirnya meninggal dunia demi gadis itu setelah apa yang ia usahakan selama ini?”aku berceloteh panjang.

“…”

“kenapa kau selalu membuat novel yang selalu berahir sad ending?”

“hmm.. mungkin karena itu aku bisa dikatakan novelis yang berbakat membuat pembacanya menangis?”

“kau bercanda?”

Soohe tertawa, ia menggelengkan kepalanya. Dasar, apa karena dia lebih tua 1 tahun dariku dia bisa membuatku sejengkel ini?

“aku memang menyukainya..”ujar Soohe sambil mengetik lagi.

“…”aku hanya membisu.

“seolah semua perasaanku meluap-luap di ending mereka.. seolah perasaanku betul-betul kulepaskan disana”

Aku terpana dengan kata-katanya tadi, aaahh! Jangan! Aku tidak boleh menatapnya selama ini, ini tidak baik.

“apa Suho Hyung sudah membacanya?” tanyaku, aku telah menyebut nama kakak laki-lakiku tadi. Ya, dia adalah kekasih Soohe.

“belum..dia terlalu sibuk untuk membaca novel membosankan ini” gadis itu mengejek dirinya sendiri, dia memang selalu begitu. Walaupun terselip nada kecewa disana.

“apa-apaan lelaki itu tidak membaca novel yang luar biasa menyedihkan ini?”

Soohe tertawa pelan “sudahlah..mungkin ada waktunya dia akan membacanya”

Aku terdiam lagi disisiku, aku benci keadaan seperti ini. Jika aku terdiam, itu tandanya aku juga tak tahu apa yang harus kuucapkan lagi.

“bagaimana dengan SMA mu?” tanyanya tiba-tiba.

“yaah..begitulah.. aku sedikit kewalahan karena tidak ada kau dan Hyung yang membantu mengerjakan pr secara dadakan seperti dulu” aku tertawa begitu pula dengan dirinya. Kemudian kami terdiam lagi, cukup lama karena aku membiarkan gadis itu berkonsentrasi mengerjakan novel barunya.

“aku..aku harus pergi”

Gadis itu segera menatapku, “secepat itu?” , aku mengangguk. “ya, aku ada keperluan.. jadi..maaf aku hanya bisa menemanimu sampai disini” ujarku sambil menatap kesekitar cafe yang masih ramai.

“baiklah.. gomawo Sehun-ah.. hehe” katanya, dan masih tersenyum. Aku terheran-heran dalam hati, sebuah pertanyaan terbesit dipikiranku . Sebuah pertanyaan yang aku sendiri sulit jelaskan.

Setelah berpamitan darinya, aku segera bergegas keluar cafe. Sambil mengendarai motorku, perjalanan yang sebenarnya tanpa tujuan. Aku sengaja pergi saat itu, entah kenapa menatap wajah gadis itu selalu membuatku ingin menangis, ya ingin menangis. Ia terlalu menyedihkan, menyakitkan dan sangat rapuh. Padahal kupikir, dia tidak seperti itu dulu. Sangat berbeda.

Teringat jelas diingatanku, ketika aku mengenalnya sebagai gadis perpustakaan yang hanya sibuk membaca buku-buku yang membosankan. Ia memang ramah, pintar, dan juga orang yang ceria. Soohe selalu menunjukkan buku-buku yang menurutnya sangat seru dan bagiku itu hanya tulisan-tulisan tanpa gambar yang membosankan. Dan aku mempunyai orang yang beda tipis dari gadis itu, ia adalah kakak laki-laki ku yang dua tahun diatas Soohe, Suho Hyung. Hyung orang yang pintar, baik hati, dan tampangnya yang terlihat keren. Mereka berdua sangat berbeda denganku yang tidak terlalu pintar, dan kurang suka berbaur dengan orang-orang. Saat itu aku masih kelas 3 SMP, Soohe kelas 1 SMA, dan Hyung kelas 3 SMA. Kebetulan sekali karena kami berada dalam satu sekolah yang mempunyai SMP dan SMA. Jadi aku bisa selalu melihat mereka berdua, Soohe teman masa kecil kami berdua, dan Hyung adalah saudara kandungku sendiri. Aku sangat menyayangi mereka.

Mereka selalu dianggap sebagai pasangan yang ideal, pasangan yang sangat istimewa. Walaupun mereka belum menjalin hubungan, tapi rumor-rumor mengatakan bahwa mereka telah berpacaran. Entah kenapa saat itu Soohe menanyakan padaku, apakah ia harus menerima pernyataan cinta dari Suho Hyung. Aku bertanya kepadanya, kenapa dia harus menanyakan pertanyaan seperti itu padaku, tapi dia hanya diam begitu pula denganku, perasaanku terasa campur aduk saat itu.

“sebaiknya.. kau”

Soohe menatapku meminta jawaban dan kelanjutan dari yang kukatakan tadi.

“sebaiknya..kau menerimanya” suaraku terdengar parau. Ia sedikit terkejut, wajahya sangat susah kutebak saat itu. Ia pun mengangguk pelan, dan berjalan meninggalkanku.

“apa kau yakin? Sehun?”

Aku tercekat, aku juga tidak tahu harus menjawab apa, aku membisu dan membiarkan dia pergi begitu saja. Saat ahirnya mereka berpacaran, disaat itulah kusadari.

kenapa aku menyuruhnya untuk menerima pernyataan cinta Hyung?

kenapa.. aku tidak menyuruhnya untuk menolaknya saja..

kenapa aku baru menyadarinya? Bahwa aku juga ternyata menyukainya..

aku tertawa dalam hati, menertawai seorang lelaki pengecut sepertiku. Terkadang melihat seseorang yang kita cintai pergi bersama orang lain akibat kita sendiri itu menyakitkan.

Intinya..

Aku berhenti tepat disebuah perpustakaan kecil yang terlihat sepi, perpustakaan yang banyak memberikan masa laluku dengan Soohe. Aku memang adik yang kurang aja yang tidak memanggilnya dengan sebuatan yang lebih tua, tapi beginilah aku.

Waktu itu ketika aku kelas 1 SMA, ia mengajakku untuk membaca buku disini. Walaupun aku tau sebenarnya aku adalah pengganti Hyung ku yang tidak bisa hadir, Hyung saat itu sedang sakit jadi ia memohon padaku agar menemani gadis itu. Pada awalnya aku tidak peduli dengannya, ia gadis yang ceria berbeda sekali dengan diriku. Tapi ia selalu mempunyai banyak topik yang menenyenangkan untuk dibicarakan. Ia berkata padaku, walaupun perpustakaan ini terlihat tua dan kecil tapi perpustakaan ini banyak mempunyai buku-buku cerita yang seru untuk dibaca. Aku hanya mengiyakannya dengan membaca beberapa komik disana, kepalaku terlalu pusing untuk membaca buku tanpa gambar. Walaupun pada ahirnya, aku mulai terbiasa dan mulai menyukai buku-buku disana.

Ketika aku memasuki perpustakaan itu, seorang penjaga perpustakaan menyapaku. Aku hanya tersenyum dan mencari-cari buku yang menarik, aku juga tak mengerti kenapa aku berahir ke perpustakaan ini. Disebuah  meja tersusun rapi beberapa buku yang sepertinya ditinggalkan begitu saja oleh pembacanya tanpa mengembalikannya pada tempatnya. Aku menghampiri meja itu, disekian banyak buku tersebut, terlihatlah buku yang sangat familiar bagiku. Itu adalah novel karya Soohe. Aku mengambiilnya dan tersenyum, banyak juga penggemar novel ini.

“dia terlalu sibuk untuk membaca novel membosankan ini”

Aku segera mengambil ponselku, mencari nama kontak Hyung dan segera meneleponnya. Panggilan pertama tidak ada jawaban, memang sewajarnya begitu, Hyung mulai bekerja di sebuah perusahaan dan itu sangat menguras waktunya. Panggilan kedua berahir sama, dan pada panggilan ketiga.

yeoboseo?” terdengar suara milik Suho Hyung, nada itu terdengar buru-buru. “ada apa Sehun?” tambahnya.

“eemm.. Hyung, apa kau lagi sibuk?”

“seperti biasanya, tapi aku tak akan melewatkan pembicaraan ini untuk adik kecilku tersayang” terdengar suara tawa yang menjengkelkan itu, Hyung terlalu menganggapku seperti anak kecil seperti adiknya yang saat itu masih kecil.

“Hyung.. aku sudah kelas 3 SMA. Apa-apaan ini?” gerutuku diselingin senyum dibibir, lelaki itu tak pernah berubah.

“ahaha..maaf maaf..Sehun. jadi ada yang ingin kau bicarakan?”

“emm.. apa..apa..”aku sedikit ragu menanyakannya.

“ya Sehun?”

“apa Hyung sudah membaca novel karya Soohe yang beberapa lalu sudah terbit?”

Tak ada jawaban disana.

“Hyu-“

“belum Sehun..”

“oh..oh ya? Sebaiknya..sebaiknya kau harus membacanya Hyung! Kau akan terkejut di endingnya nanti!” ujarku dengan semangat.

“hmm..benarkah?” suara itu terdengar putus-putus.

“jadi?”

“aku akan membacanya..nanti”

Kami saling terdiam dengan ponsel yang masih melekat ditangan.

“kau belum menghubunginya ? atau mungkin.. ucapan selamat atas terbitan novel barunya itu?”

“aku..belum”

“kenapa?”

“aku terlalu sibuk Sehun”

“apa kau tidak ada waktu sedikitpun berbicara dengannya satu patah kata sedikitpun?!”nadaku mulai meninggi.

“tunggu Sehun.. dengar-“

“apa kau sesibuk itu sampai kekasihmu sendiri kau abaikan?! Aku tak percaya ini..”

Tanpa pikir panjang, aku segera mematikan telepon. Entah kenapa aku merasa begitu marah padanya saat ini, apa karena perkataan Soohe tadi? Semua terasa terjadi begitu saja. Perasaanku yang campur aduk menghilangkan semua hasrat membacaku. Aku segera pergi dari tempat itu.

//

Pagi menyingsing, kubuka mataku yang terasa berat. Kupaksa badanku yang lelah itu untuk segera bangun dan segera berangkat ke sekolah. Ketika mataku tertuju pada dapur langkahku terhenti, terlihat Suho Hyung sedang menyiapkan sarapan lezat khas darinya. Semenjak orangtua kami meninggal akibat sebuah insiden, Suho mengambil alih sebagai kepala keluarga. Karna kecerdasan yang ia punya, ia dapat mempercepat kuliahnya dan segera bekerja disebuah perusahaan terkenal. Walaupun hanya ada kami berdua, ia tetap mencoba untuk memeprtahankan semua yang telah orangtua kami usahakan, karena itu aku sangat menghormati dirinya.

“Hyung..”

Suho Hyung tersenyum “selamat pagi Sehun, sebaiknya kamu segera sarapan jika tak ingin terlambat”

“Hyung sendiri.. kenapa ada disini?”

“kau ini..” lelaki itu tertawa renyah “aku hanya menyiapkan sarapan seperti biasanya, apa salah?”

Aku menggeleng pelan, dan segera duduk dimeja dan melahap sarapan dengan segera. Dan saat itu hanya ada hening diantara kami. Mungkin Hyung merasa bersalah , begitupula dengan diriku yang kemarin membentaknya.

“Sehun..” suara itu terdengar parau “mianhae..”

Aku berhenti mengunyah dan menatapnya. “Hyung seharusnya mengatakan itu pada Soohe”

“aku sudah mengatakan itu padanya. Dan ia menerimanya”

Aku mengangguk, jika lelaki itu sudah menelepon Soohe itu sudah cukup.

“apakah lebih baik jika kami berpisah?”

Sekali lagi, ia berhasil membuatku berhenti mengunyah. Ada apa dengan lelaki ini?

“mwo?” tanyaku.

“setelah selama ini, sudah dari dulu aku sadari.. bahwa..aku tak dapat menjaga gadis itu seperti dulu.. tak dapat menyenangkannya seperti dulu.. dan ahirnya aku hanya membuatnya menangis”

Aku hanya menatapnya, apakah Hyung sudah menyerah dari Soohe?

“mungkin sebaiknya..”

Aku menahan nafasku seolah itu terasa berat untuk dihirup.

“mungkin sebaiknya.. kami berpisah”

Hyung mungkin dapat melihat ekspresi wajahku saat itu, sangat terkejut.

“a..apa yang kau pikirkan?!”

“aku-“

“justru itu akan membuat dia menangis!”bentakku, lagi.

“Sehun! Dengarkan.. kumohon” Hyung menatapku dengan istilah tolong-dengarkan-aku.

“tapi Hyung-”

“sebaiknya..kau harus menggantikan posisiku saat ini”

“posisi? Posisi apa?”

“posisiku sebagai kekasih Soohe..”

Seolah seperti ada yang menyengat telingaku, aku terdiam. Hening diantar kami, Hyung menundukkan kepalanya hingga aku tak dapat menebak ekspresi wajahnya saat itu. Apa itu? Ia ingin aku menjadi kekasih Soohe? Apa Hyung betul-betul menerima ini? Apa Hyung sudah mengetahui perasaanku sebenarnya pada Soohe? Apa seperti ini ahirnya?!

“kau bercanda..” hanya itu yang dapat kuucapkan.

“aku serius Sehun..kumohon-“

Hah? Hyung sampai memohon padaku? Hyung.. kumohon.

Aku segera menyambar tas milikku dan bergegas pergi tanpa memerdulikan panggilan itu. Panggilan kecewa milik Hyung. Aku tak dapat menjawab pertanyaannya.

//

“Jeongmal?!” suara Kai terdengar menggelegar, dan aku hanya memberi tatapan sinis padanya.

“bisa kau kecilkan volume mu!?”

“ah.. maaf” Kai sahabatku yang tahu segala hal yang terjadi tadi menatapku dengan sedih. Sepertinya ia mengerti posisiku.

“aku tak menyangka jika .. Hyung mu .. menyuruhmu seperti itu”

Aku hanya terdiam, kami sedang berjalan dikoridor menuju pintu keluar. Kelas telah berahir, dan saatnya untuk pulang. Tiba-tiba ponsel milikku berbunyi, aku merongohnya dari sakuku. Kai mencuri pandangannya pada layar ponselku, dan kami saling bertukar pandang.

Soohe.

“Yeoboseo?” tanyaku membuka obrolan.

“Sehun..” suara Soohe terdengar parau, terdengar jelas bahwa ia sedang menangis. Itu sangat menyayat diriku.

“Soohe? Waeyo??” tanyaku khawatir, apakah ini ada sangkut pautnya dengan Hyung?

Yang terdengar hanya suara tangis gadis itu, suara tangis yang memerihkan. Aku tahu bahwa Soohe tak dapat menjelaskan sesuatu ketika ia menangis tapi sudah terpikir jelas apa yang ia tangiskan.

“tunggulah.. aku akan kesana..”

Aku segera memutuskan telepon, dan meraih kunci motorku. Kai hanya menggeleng bingung, ia hanya membiarkanku pergi dan memastikaku agar tidak terjadi apa-apa nanti.

Aku berhenti didepan rumah Soohe, aku mengetuk pintu berwarna coklat muda itu. Aku sangat yakin, orangtua Soohe belum pulang jam segini karena mereka adalah pekerja yang sibuk. Tak berapa lama pintu itu dibuka, terlihatlah wajah Soohe yang penuh dengan simbahan air mata dan ia terlihat tak meyakinkan untuk tersenyum.

Gadis itu duduk di sofa, ia hanya menunduk sambil mencoba menahan tangisnya yang sebenarnya sudah mengalir deras dipipinya. Aku terdiam disisiku.

“Katakan Soohe.. apa yang sedang terjadi?”

Awalnya hanya ada diam diantar kami, dan ahirnya gadis itu mencoba untuk menjawab.

“Oppa..memintaku untuk mengahiri hubungan kami demi diriku”

Sudah dapat kutebak, dan itu ternyata benar. Ahhrg! Aku belum menjawab pertanyaan Hyung, dan sekarang dia sudah melakukan hal itu?

“maafkan dia..Soohe. aku mengerti perasaanmu” ujarku pelan, aku tak dapat merangkai kata-kata yang indah memang.

“apakah hubungan kami memang sehancur ini Sehun?” tanya gadis itu, suaranya sangat parau.

Aku juga tak dapat menjawabnya. Gadis itu masih menangis, ia membenamkan wajahnya dikedua tangannya.

“Soohe.. kumohon.. tenanglah”

Soohe masih menangis, dan tak mengatakan apapun. Aku mengusap rambutnya, dan mencoba untuk menatap matanya. Cantik. Ia masih menangis, kucoba untuk mengusap air matanya sebisaku. Dan ahirnya Soohe dapat tenang seperti ia biasanya.

Aku membuat secangkir teh panas untuknya, ia menerimanya dengan senyum tipis di bibirnya.

“terimakasih Sehun.”

Aku mengangguk, dan duduk disampingnya. Kubiarkan ia mengesap tehnya, dan menunggu sesuatu yang mungkin akan keluar dari mulutnya.

“ini enak..” katanya sambil tersenyum, senyuman yang manis. Aku juga membalas senyuman itu dengan senyuman.

Kemudian kami terdiam satu sama lain, hingga ahirnya aku mencoba menayakan sesuatu.

“apakah Hyung ada mengatakan hal lain selain itu?”tanyaku ragu, jangan katakan bahwa..

Soohe hanya diam, ia seolah sedang pergi kedunia khayalannya.

“Soohe..” aku memberanikan diri untuk menarik tangannya, dan ini pertama kalinya bagiku menyentuh tangannya. Tiba-tiba gadis itu memelukku, entah kemana kujatuhkan jantungku tadi.

Gadis itu hanya membenamkan diri dalam pelukanku, aku tak membalas pelukannya dan hanya membiarkan ia menangis. Karena aku yakin, aku tak berhak memeluknya jika ia tidak memintaku.

“aku.. sudah dari dulu menyukaimu.. Sehun”

Lagi-lagi gadis ini membuatku terkejut, aku masih terdiam dan ia melanjutkan kalimatnya.

“tapi ternyata aku juga menyukai Suho Oppa..” , “sungguh.. aku merasa kecewa ketika kau menyuruhku untuk menerimanya, tapi karena kusadari Oppa juga menyayangiku”

“dan sekarang Oppa menyuruhku untuk bahagia bersamamu, ketika aku mulai mencintai dia”

Kalimat itu sedikit mengiris hatiku, perih. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya membiarkan gadis ini tanpa memeluknya walaupun ia mendekapku seerat ini.

“jadi.. apakah kau juga mencintaiku?”

Sungguh, demi apapun Sohee aku memang mencintaimu.. sangat mencintaimu.

“aku ingin jawabanmu, Sehun”

Kau tak perlu menanyakan itu lagi Sohee, kau sudah mengetahuinya dari awal bukan?  . cukup lama aku dan Sohee terdiam, walau terdengar suara isak gadis itu yang memilukan. Aku harus menjawabnya.

Apakah ini kesempatan emas bagiku untuk mendapatkannya? Toh, Suho Oppa juga menyuruhku dan Sohee juga mengaku bahwa ia juga pernah menyukaiku. Apakah aku harus menerima kesempatan berharga ini?

Aku melepas Sohee dari pelukanku dengan lembut, kutatap wajahnya. Ia hanya terdiam, aku tersenyum.

“Sohee..” panggilku “aku tahu bahwa kau sebenarnya lebih mencintai Hyung”

Mata gadis itu terlihat membesar, terkejut akan jawabanku. Bukan jawaban ‘iya’ ataupun ‘tidak’ melainkan sebuah fakta yang sebenarnya Sohee belum sadari, kenyataan bahwa ia lebih mencintai Hyung.

“maksu-“

“kau tak perlu menanyakan maksud itu lagi padaku, kau cukup tanyakan itu pada dirimu sendiri” ujarku, “kau akan menangis jika kau harus meninggalkan orang yang kau cintai..dan aku tahu itu”

“pergilah.. berlarilah kepada Hyung.. dan katakan apa yang sebenarnya kau rasakan”

Sohee mengelap air matanya, dan terlukis senyuman darinya. Ia segera membungkukkan badannya kearahku.

“sungguh.. sungguh terimakasih banyak Sehun” ujarnya. Dan segenap semangat yang mengalir pada dirinya, gadis itu segera mengambil ponselnya dan berlari keluar.

“ah tunggu..” panggilku segera.

Sohee segera berbalik, “aku belum menjawab pertanyaanmu sebelumnya..”

“pertanyaan yang .. mana?”

Aku tersenyum, aku tak mau memendam lagi perasaanku. Aku hanya ingin mengatakan apa yang selama ini juga kurasakan, aku ingin..

“aku juga.. menyukaimu dan terimakasih untuk segalanya.. lakukanlah semuanya demi jawabanku ini”

Kulihat Soohe terkejut, dan ahirnya ia tersenyum manis padaku.  “ahirnya.. kau mengatakannya” mata gadis itu berkaca-kaca dan segera pergi. Aku tersenyum, perasaanku sangat lega setidaknya ia sudah tahu perasaanku, dan aku tak perlu lagi terkurung dalam perasaanku sendiri.

Samar-samar kudengar ia mengatakan “Oppa..aku.. aku sungguh.. sungguh mencintaimu !! sungguh!! Maka dari itu.. jangan lakukan hal ini lagi.. kumohon”

Dari kejauhan, dapat kupikirkan bahwa Hyung pasti akan sangat terharu, karena aku tahu mereka berdua adalah orang yang sebenarnya saling mencintai.

2 hari kemudian

Suara siulan angin terdengar jelas sehingga membuat beberapa pohon melambai-lambai bersamaan, aku tepat berdiri didepan perpustakaan. Hanya membaca nama dari perpustakaan itu, kemudian dibalik pintu kacanya tertulis ‘tutup’ , sudah 2 hari perpustakaan ini tidak buka aku pun tak tahu mengapa. Sebuah getar mengejutkanku, segera kuraih ponsel milikku dan membaca pesan yang baru saja sampai. Dari Soohe, pesan itu tidak terlalu panjang tapi aku dengan mudah memahami isinya dengan cepat. Ia dan Hyung akan menikah.

Senyum masih bertengger dibibirku, aku sudah lama menduga semuanya. Dan aku juga sudah menyadarinya, tapi ada suatu pertanyaan yang masih mengikutiku.

Apakah mereka akan menghawatirkanku? Aku yakin mereka pasti menghawatirkanku..

Dan aku tak mau itu. Aku tak mau lagi menganggui mereka, sungguh. Aku hanya ingin mereka bahagia dan melupakanku itu saja.

Kulihat dikeseberang jalan, terbesit kembali sepenggal kalimat dari novel karya Soohe.

Seorang pemeran utama yang sengaja membunuh dirinya sendiri, agar orang yang ia cintai bahagia.

Aku tak tau apakah ini adalah sebuah kebetulan atau memang takdirku. Kupikir, pemeran utama dalam novel itu sama dengan diriku, ya sama. Aku memang tidak menyukai sad ending, tapi bolehkan jika aku mengarang ceritaku sendiri Tuhan? Bisakah kubuat ceritaku ini berahir sad ending sama dengan novel karya Soohe itu?

Kulangkahkan kakiku yang berat ini, ayolah kakiku biarkanlah aku pergi. Kulihat sekilas bahwa lampu untuk berjalan itu masih merah dan jalanan masih begitu ramai dengan kendaraan yang lewat. Aku tak yakin, tapi aku ingin.

Kulangkahkan kakiku, kubiarkan diriku pergi dan aku tak ingin lagi mendengar suara panggilan orang-orang disana seolah telingaku sudah tuli dan tak bisa melihat apa-apa.

Selama tinggal.. dunia. Hyung, kuharap kau jaga Soohe baik-baik.

Tenang, aku baik-baik saja.

Tiba-tiba sebuah tangan yang hangat mengenggam erat tanganku, begitu hangat sehingga badanku yang terasa dingin itu seperti hidup kembali. Kupaksakan wajahku melihat seseorang dibelakangku, ia telah menghalangiku untuk pergi. Tapi yang kulihat adalah seorang gadis dengan balutan syal putih yang serasi dengan wajah pucatnya, entahlah. Wajahnya terlihat begitu ketakutan dan matanya terlihat berair, apa karena aku? .

“ma..maafkan saya.. tapi tolong.. tolong hentikan”

Aku terpaku dengan matanya, dan karena kalimatnya tadi aku segera menghiindarkan dirku dari tempat itu. Kulihat ia menyeka matanya yang berair tadi.

“syukurlah… kukira..kukira kau akan melakukan sesuatu yang sangat tidak ingin kulihat”

Aku masih terdiam, dan entah beribu-ribu pertanyaan mengangguku. Intinya, kenapa aku melakukan itu?

Gadis itu tersenyum manis padaku yang sedang terdiam bingung seperti orang bodoh, ia kemudian membungkuk dan melambaikan tangannya selagi ia terus berjalan menjauh.

“ah tunggu!”

“ya?”

“bolehkan… namamu.. errr”

Gadis itu tersenyum lagi “namaku  Hye Min” ujarnya kemudian berlalu.

Aku tersenyum pelan, ternyata masih ada yang peduli padaku walaupun aku belum mengenalnya sama sekali.

Apakah Tuhan ingin membuat kisahku berahir dengan Happy Ending?

Kurasa begitu.

Tamat.